MEMBENTUK KARAKTER GURU PROFESIONAL

MEMBENTUK KARAKTER GURU PROFESIONAL
NEGERI YANG DAMAI DAN PENUH PESONA

Jumat, 30 April 2010

PENGERTIAN,TEORI,DAN KONSEP BELAJAR

PENGERTIAN, TEORI, DAN KONSEP-KONSEP BELAJAR

Oleh:Hayatuddin Fataruba


A.PENGERTIAN BELAJAR
Apakah belajar itu?
a.Macam-macam aktifitas yang disebut belajar.
Kalau ditanyakan apakah belajar itu? Maka jawabannya akan berfariasi,karena apa yang disebut perbuatan belajar itu beracam-macam. Banyak aktifitas-aktifitas yang oleh hampir semua orang dapat disetujui kalau disebut perbuatan belajar seperti misalnya;mendapatkan perbendaharaan kata-kata baru, menghafal syair, menghafal nyanyian, dan sebagainya. Belajar adalah proses dasar dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang.
b.Macam-macam definisi belajar.
Merumuskan definisi mengenai belajar yang memadai bukanlah suatu pekerjaan yang mudah,sehingga banyak ahli yang mengemukakan argumentasinya mengenai belajar bermacam-macam. Sehingga di bawah ini digunakan beberapa definisi ahli yang dapat dipakai sebagai data untuk mencari inti persoalannya.
1. Crombach (didalam bukunya Educational Psychology, 1954:47) menyatakan bahwa; learning is shown by a change in behavior as a result of experience (Belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami; dan dalam mengalami itu si pelajar mempergunakan panca inderanya).
2. Harold Spears (1955:94) menyatakan bahwa; learning is to observe,to read,to imitate,to try something
themselves,to listen,to follow direction (belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu, mendengarkan dan mengikuti petunjuk).
3. Mc.Geoh (dalam Skinner,1958:109) menyatakan bahwa; learning is a change in performance as a result of practice (belajar adalah suatu perubahan yang dicapai setelah mencoba sesuatu atau mempraktekkan sesuatu).
4. William Stern (dalam Stern, 1950:313) menyatakan bahwa; learn ist kenntnisserwerb durch wiedurholte darbeitungen (der ansignung neur fertigkeiten durch wiederholung die rede.
5. James O.Wittaker (dalam Psychologi Pendidikan landasan kerja pemimpin pendidikan;Drs.Wasty Soemanto) menyatakan bahwa; belajar dapat didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
6. Di dalam buku yang sama, Howard L.Kingsley menyatakan bahwa; belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam artian luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.

Sehingga dari definisi-definisi yang dikemukakan para ahli sebagaimana tersebut di atas, maka didapatkan hal-hal pokok mengenai belajar sebagai berikut:
a.bahwa belajar itu membawa perubahan (dalam arti behavioral changes, aktual maupun potensial)
b.bahwa perubahan itu pada intinya adalah didapatkannya kecakapan baru.
c.bahwa perubahan-perubahan itu terjadi karena usaha (dengan sengaja).
d.bahwa belajar semakin efektif, dibutuhkan latihan-latihan atau pengalaman-pengalaman.
Dengan demikian, maka menurut saya belajar adalah mendayagunakan pengetahuan seoptimal mungkin untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman baru.
Dalam proses belajar maka akan terbentuk pengetahuan-pengetahuan, yang pada konsepnya ada pengetahuan yang ada dan muncul karena pengalaman dan mitos-mitos yang berkembang tanpa pembuktian ilmiah, dan ada pengetahuan yang muncul karena dilandasi pembuktian-pembuktian ilmiah.
Pengalaman-pengalaman yang muncul ini sering diidentikkan dengan pengetahuan, sedangkan pembuktian-pembuktian kebenaran dari apa yang didapat secara ilmiah, terorganisisr dan valid ini disebut ilmu.
B.PENGERTIAN ILMU
Lalu apa itu pengetahuan dan apa itu ilmu?
Kegiatan keilmuan dan pengembangan ilmu memerlukan dua pertimbangan, yakni obyektifitas yang tertuju kepada kebenaran, dan nilai-nilai hidup kemanusiaan yang merupakan pertimbangan moril. Pertimbangan nilai ini sangat berpengaruh pada tujuan ilmu pengetahuan dan kegiatan ilmiah pada umumnya. Para ilmuwan yang yang hanya menggunakan pertimbangan nilai kebenaran fisika dengan mengesampingkan nilai metafisika akan tiba pada prinsip ilmu pengetahuan yang bebas nilai yang menjadikan kebenaran sebagai satu-satunya ukuran dan segala-galanya bagi seluruh kegiatan ilmiah. Beberapa tokoh yang berpandangan ilmu pengetahuan harus bebas nilai diantaranya:
1. Jacob Bronowski yang berpendapat; tujuan pokok ilmu adalah mencari sesuatu yang benar tentang dunia. Aktifitas ilmu diarahkan untuk melihat kebenaran, dan hal ini dinilai dengan ukuran pembenaran fakta.
2. Victor Reisskop yang berpendapat; tujuan pokok ilmu bukan pada penerapan, tujuan ilmu ialah mencapai pemahaman-pemahaman terhadap sebab dan kaidah-kaidah tentang proses-proses ilmiah.
3. Carl G.Hempel dan Paul Oppenheim berpendapat; menjelaskan fenomena dalam dunia pengalaman, menjawab pertanyaan “mengapa?” daripada semata-mata pertanyaan “apa?” merupakan salah satu dari tujuan-tujuan semua penyelidikan rasional; dan khususnya penelitian ilmiah dalam aneka cabangnya berusaha melampaui sekedar hanya suatu pelukisan mengenai pokok soalnya dengan menyajikan suatu penjelasan mengenai fenomena yang diselidiki.
4. Maurice Richter yang berpendapat; tujuan ilmu sebagaimana biasanya diakui dewasa ini meliputi perolehan pengetahuan yang digeneralisasi , disistematisasi mengenai dunia alamiah; pengetahuan yang membantu manusia untuk memahami alam, meramal kejadian-kejadian dan mengendalikan kekuatan-kekuatan alamiah.

Sedangkan para ilmuwan yang memandang perlunya pertimbangan nilai-nilai etik, kesusilaan dan kegunaan untuk melengkapi pertimbangan nilai kebenaran dan berprinsip bahwa ilmu pengetahuan harus taut nilai diantaranya:

1. Francis Bacon yang berpendapat; ilmu pengetahuan adalah kekuasaan, lebih lanjut; tujuan ilmu ialah sumbangan terhadap hidup manusia dengan ciptaan-ciptaan dan kekayaan baru (The Liang Gie, 1984)
2. Daoed Yoesoef yang berpendapat; ilmu pengetahuan memang merupakan suatu kebenaran ersendiri, tetapi otonomi ini tidak dapat diartikan bahwa ilmu pengetahuan itu bebas nilai (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM;2007).
3.C.A van Peursen yang berpendapat; betul bahwa ilmu merupakan sistem dalam suatu konteks, tapi tidak betul bahwa ilmu dilarutkan dalam konteks itu. Betul bahwa fungsi ilmu berubah sesuai dengan lingkungan budaya dan konstelasi sosial. Dalam arti ini, ilmu harus sanggup mengakui pengaruh timbal balik dari penelitian, namun demikian jangan sampai larut karena ilmu itu justru merupakan imbangan yang berharga menghadapi ideologi. Apabila ilmu diserap oleh ideologi, hilanglah kemungkinan akan kritik diri. Ketegangan antara keduanya hendaknya dipertahankannya karena dapat menjernihkan kedua belah pihak.
4.Notonagoro (dalam Filsafat Ilmu) berpendapat; metode ilmiah merupakan landasan tetap yang menjadi kerangka pokok atau pola dasarnya ilmu, sedangkan pertimbangan nilai-nilai menjadi latar belakang kegiatan ilmiah; merupakan segi pertimbangan metafisikanya. Pertimbangan metafisika disamping meliputi nilai kebenaran yang menjadi ukuran pokok dan tetap bagi ilmu pengetahuan , juga meliputi nilai kebaikan dan nilai keindahan kejiwaan.
Sedangkan Jujun Suriasumantri berpendapat bahwa; semua pengetahuan, apakah ilmu,seni atau pengetahuan apasaja pada dasarnya memilki tiga (3) landasan:
1.Ontologi yang membahas tentang apa yang ingin diketahui atau merupakan pengkajian mengenai teori tentang ada.
2.Epistemologi yang membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk
memperoleh pengetahuan.
3.Aksiologis yang membahas tentang manfaat yang diperoleh manusia dari pengetahuan yang
didapatkannya.
Jika menyelami konsep-konsep yang dikemukakan para ahli tersebut, maka masalahnya terletak pada hakikat ilmu itu sendiri, karena sebenarnya ilmu bersifat netral, tidak mengenal sifat baik dan buruk. Manusialah yang menjadi faktor penentu dalam artian netralitas ilmu hanya terletak pada dasar epistemologisnya saja.
Dengan demikian maka, ilmu adalah suatu metode untuk penggambaran, penciptaan, dan pemahaman terhadap pengalaman manusia.
Sedangkan pengetahuan adalah pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia baik melalui kajian ilmiah maupun berdasarkan asumsi-assumsi, dogma-dogma, mitos-mitos yang berkembang dan ditemui disekitarnya.
Sehingga kesimpulannya, Ilmu adalah pengetahuan yang teratur dan teruji , terproses, secara metodik dan rasional dari data eksperimental dan empirik, konsep-konsep sederhana, dan hubungan perspektual menjadi generalisasi-generalisasi, teori-teori, dan kaidah-kaidah ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan guna kemaslahatan manusia dan alam semesta.
C.TEORI-TEORI BELAJAR
Sebuah teori pembelajaran biasanya memiliki tiga (3) fungsi yang berbeda namun saling terkait erat. Pertama, teori pembelajaran adalah pendekatan terhadap suatu bidang pengetahuan;suatu cara menganalisis,membicarakan dan meneliti pembelajaran. Kedua, belajar itu berupaya untuk meringkas sekumpulan besar pengetahuan mengenai hukum-hukum pembelajaran ke dalam ruang yang cukup kecil. Dan yang Ketiga, secara kreatif belajar itu berupaya menjelaskan apa itu pembelajarn dan mengapa pembelajaran berlangsung seperti adanya. Dewasa ini terdapat bermacam-macam teori dalam membahas belajar ini, diantaranya:
A.Teori belajar Behavioristik (tingkah laku) yang menekankan pada hasil.
Pandangan dari teori ini adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respons. Atau dengan kata lain, belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respons. Para ahli yang merumuskan teori ini antara lain:

1. Thorndike (1911)
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus (yang mungkin berupa pikiran,perasaan atau gerakan) dan respons (yang juga bisa berupa pikiran, perasaan atau gerakan).
2. Watson (1963)
Menurut Watson, stimulus dan respons tersebut harus berbentuk tingkah laku yang bisa diamati (observable)
3. Clark Hull (1943)
Menurut Hull, tingkah laku seseorang berfungsi untuk menjaga kelangsungan hidup oleh karena itu, kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis menempati posisi sentral dimana kebutuhan dikonsepkan sebagai dorongan (drive),seperti lapar,haus,tidur,hilangnya rasa nyeri dan sebagainya (stimulus hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis ini meskipun respons mungkin bermacam-macam bentuknya).
4. Edwin Guthrie (teori kontiguiti)
Menurut Guthrie, belajar merupakan kaitan asosiatif antara stimulus tertentu dan respons tertentu. Hubungan antara stimulus dengan respons merupakan faktor kritis dalam belajar, untuk itu diperlukan pemberian stimulus yang sering agar hubungan menjadi lebih langgeng. Selain itu, suatu respons akan lebih kuat (bahkan menjadi kebiasaan) apabila respons tersebut berhubungan dengan berbagai macam stimulus.
Guthrie juga mengemukakan bahwa hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Suatu hukuman yang diberikan pada saat yang tepat, akan mampu mengubah kebiasaan seseorang.
5. Skinner (1968) (neo-behavioris,yang mengalihkan dari laboratorium ke praktik kelas)
Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respons untuk menjelaskan perubahan tingkah laku (dalam hubungannya dengan lingkungan) seperti Hull dan Guthrie adalah deskripsi yang tidak lengkap. Mengapa? karena respons yang diberikan oleh siswa tidaklah sesederhana itu, sebab pada dasarnya setiap stimulus yang diberikan berinteraksi satu dengan yang lainnya, dan interaksi itu akhirnya mempengaruhi respons yang dihasilkan. Sedangkan respons yang diberikan juga menghasilkan berbagai konsekuensi, yang pada gilirannya akan mempengaruhi tingkah laku siswa. Oleh karena itu untuk memahami tingkah laku siswa secara tuntas, diperlukan pemahaman terhadap respons itu sendiri, dan berbagai konsekuensi yang diakibatkan oleh respons tersebut.
B.Aliran Kognitif (mementingkan proses)
Teori belajar Kognitif merupakan suatu teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Menurut penganut teori ini, belajar bukan hanya sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respons, tetapi lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks.
Menurut teori ini, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Dalam praktik, teori ini antara lain terwujud dalam “tahap-tahap perkembangan yang diusulkan Jean Piaget, “belajar bermakna” yang dikonsepka oleh Ausubel, dan “belajar penemuan secara bebas (free discovery learning)”nya Jerome Bruner.
1. Jean Piaget (1975)
Menurut Jean Piaget, proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga (3) tahapan, yakni
1.Asimilasi adalah proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa.
Bagi seseorang yang sudah mengetahui prinsip penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan prinsip perkalian, maka terjadi proses pengintegrasian antara proses penjumlahan (yang sudah ada di benak siswa) denga prinsip perkalian (sebagai informasi baru dari guru).
2.Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru.
Jika seseorang diberikan soal perkalian, maka yang bersangkutan akan menggunakan prinsip-prinsip perkalian. Berarti pemakaian (aplikasi) prinsip-prinsip perkalian tersebut dalam situasi yang baru dan lebih spesifik.



3.Equilibrasi (penyeimbangan) adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
Agar seseorang dapat terus berkembang dan menambah ilmunya, maka yang bersangkutan menjaga stabilitas mental dalam dirinya, diperlukan proses penyeimbangan (antara dunia luar dengan dalam). Tanpa proses ini, perkembangan kognitif seseorang akan tersendat-sendat dan berjalan tidak teratur (disorganized).
2. Ausubel (1968)
Menurut Ausubel, siswa akan belajar dengan baik jika konsep atau informasi umum yang mewadahi (mencakup) semua isi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa (advance organizers).
Ausubel yakin bahwa “advance organizers (pengatur kemajuan belajar)” dapat memberikan tiga (3) manfaat, yakni:
1.dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi belajar yang akan diperlajari siswa.
2.dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sedang dipelajari siswa saat
ini dengan apa yang akan dipelajari siswa sedemikian rupa.
3.mampu membantu siswa untuk memahami bahan ajar secara lebih mudah.

3. Bruner (1960) (free discovery learning)
Menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan (termasuk konsep,teori,definisi,dan sebagainya) melalui contoh-contoh yang menggambarkan (mewakili) aturan yang menjadi sumbernya (dengan kata lain siswa dibimbing secara induktif untuk memahami suatu kebenaran umum).
Disamping itu, Brunner juga mengemukakan perlunya ada teori pembelajaran yang akan menjelaskan asas-asas untuk merancang pembelajaran yang efektif di kelas.
Menurut pandangan Bruner, bahwa teori belajar itu bersifat deskriptif, sedangkan teori pembelajaran bersifat preskriptif. Misalnya teori belajar memprediksikan berapa usia maksimum anak untuk belajar penjumlahan, sedangkan teori pembelajaran menguraikan bagaimana cara-cara mengajarkan penjumlahan.
C.Aliran Teori Humanistik.
Dari beberapa teori belajar, teori Hymanistik inilah yang paling abstrak dan yang paling mendekati dunia filsafat daripada dunia pendidikan. Teori ini lebih menekankan isi dari proses belajar dan lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuk paling ideal daripada belajar seperti apa adanya. Pakar yang mengusulkan teori ini selain dari Ausubel dengan teori belajar bermakna (meaningful learning)-nya, juga beberapa ahli antara lain:
1.Bloom dan Krathwohl
Mereka mengemukakan bahwa apa yang mungkin dipelajari atau dikuasai siswa,tercakup dalam:
a.Kognitif
Kognitif terdiri dari 6 (enam) tingkatan:
1.pengetahuan (mengingat,menghafal)
2.Pemahaman (menginterpretasikan)
3.aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan suatu masalah)
4.analisis (menjabarkan suatu konsep)
5.sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh)
6.evaluasi (membandingkan nilai,ide,metode dan sebagainya)
b.Psikomotor
Psikomotor terdiri dari 5 (lima) tingkatan:
1.peniruan (menirukan gerak)
2.penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak)
3.ketepatan (melakukan gerak dengan benar)
4.perangkaian (melakukan beberapa gerak sekaligus denga benar)
5.naturalisasi (melakukan gerak secara wajar)
c.Afektif
Afektif terdiri dari 5 (lima) tingkatan:
1.pengenalan (ingin menerima,sadar akan adanya sesuatu)
2.merespons (aktif berpartisipasi)
3.penghargaan (menerima nilai-nilai,setia kepada nilai-nilai tertentu)
4.pengorganisasian (menghubung-hubungkan nilai-nilai yang dipercayai)
5.pengalaman (menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidup).
Sedangkan David R.Krathwohl dalam buku “A taksonomy for learning, teaching, and assessing” mengadakan refisi aspek kemampuan kognitif dari Bloom dengan memilah menjadi 2 (dua) dimensi yakni, dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif. Dalam dimensi pengetahuan, didalamnya meuat objek ilmu yang disusun dari (1) pengetahuan fakta, (2) pengetahuan konsep, (3) pengetahuan prosedural, dan (4) pengetahuan meta kognitif. Sedangkan dalam dimensi proses kognitif, didalamnya memuat enam tingkatan meliputi (1) mengingat, (2) mengerti, (3) menerapkan, (4) menganalisis, (5) mengevaluasi, dan (6) mencipta.
2. Kolb
Kolb membagi tahapan belajar menjadi 4 (empat) tahap:
a.pengalaman konkret
b.pengamatan aktif dan reflektif
c.konseptualisasi, dan
d.eksperimentasi aktif.

3.Honey dan Mumford
Berdasarkan teori Kolb, Honey dan Mumford membuat penggolongan siswa dalam 4 (empat) type:
1.aktifis; mereka yang suka melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman terbaru.
2.reflektor; mereka sangat cenderung berhati-hati mengambil langkah.
3.teoris; mereka biasanya sangat kritis, senang menganalisis, dan tidak menyukai pendapat atau
penilaian yang sifatnya subjektif.
4.pragmatis; mereka biasanya menaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dari segala hal.
4. Habermas
Dalam pandangan Habermas, belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan sesama manusia. Dengan asumsi ini, maka Habermas mengelompokkan type belajar menjadi 3 (tiga) bagian:
1.belajar tekhnis (technical learning); dimana siswa belajar bagaimana berinteraksi dengan alam sekelilingnya.
2.belajar praktis (practical learning); dimana siswa juga belajar berinteraksi, tetapi antara siswa dengan orang-orang disekelilingnya saja.
3.belajar emansipatoris (emancipator learning); dimana siswa berusaha mencapai pemahaman dan kesadaran yang sebaik mungkin tentang perubahan (transformasi) kultural dari suatu lingkungan (oleh Habermas, transformasi kultural inilah yang dianggap sebagai tujuan pendidikan yang paling tinggi).
D.Aliran Sibernetik.
Menurut teori ini, belajar adalah pengolahan informasi. Sekilas teori ini mirip teori kognitif yang lebih mementingkan proses. Namun yang lebih penting lagi dari teori ini adalah sistem informasi yang diproses, karena informasi inilah yang menentukan proses.
Assumsi lain dari teori ini adalah bahwa tidak ada satu proses belajar pun yang ideal untuk segala situasi, yang cocok untuk semua siswa.

Para pendukung dan pengembang teori ini antara lain:
1.Landa (pendekatan algoritmik dan heuristic)
Menurut Linda, ada 2 (dua) macam proses berpikir. Pertama disebut proses berpikir algoritmik, yaitu proses berpikir linear, konvergen, lurus menuju ke satu target tertentu, dan yang kedua disebut cara berpikir heuristic, yaitu cara berpikir divergen menuju ke beberapa target sekaligus.
Proses belajar akan berjalan dengan baik jika apa yang hendak dipelajari atau masalah yang hendak dipecahkan diketahui ciri-cirinya, lebih tepatnya apabila disajikan dalam bentuk “terbuka” dalam urutan teratur, linier, sekuensial dan memberi keleluasaan siswa untuk berimajinasi dan berfikir. Namun untuk memahami satu konsep yang lebih luas dan banyak memiliki interpretasi, maka akan lebih baik jika proses berpikir siswa dibimbing ke arah yang “menyebar (heuristic)” sehingga pemahaman mereka terhadap konsep tersebut tidak monoton, tunggal atau dogmatis.
2.Pask dan Scott (pembagian siswa type wholist dan type serial).
Konsep yang diusulkan dalam teori ini hampir sama dengan pendekatan algoritmik, namun cara berpikir menyeluruh adalah cara berpikir yang cenderung melompat ke depan langsung ke gambaran lengkap dan utuh dalam sebuah sistem informasi.
Dengan demikian menurut teori Sibernetik ini, agar proses belajar berjalan seoptimal mungkin, bukan hanya cara kerja otak kita yang perlu dipahami, tetapi juga lingkungan yang mempengaruhi mekanisme itupun perlu diketahui.
D.HUKUM-HUKUM BELAJAR.
Dalam proses belajar terjadi hubungan antara tanggapan (bayangan yang tinggal dalam ingatan setelah kita melakukan pengamatan) yang satu dengan tanggapan yang lainnya dalam jiwa. Menurut ahli-ahli psychology, hubungan antara tanggapan-tanggapan itu ada semacam kekuatan halus yang menyebabkan bahwa apabila tanggapan yang satu memasuki wilayah kesadaran, maka tanggapan itu akan memanggil tanggapan yang lain dan membawanya memasuki wilayah kesadaran.
Sehingga kekuatan tanggapan ini menimbulkan sebab akibat yang berdasarkan aturan atau hukum-hukum tanggapan, dapat dibagi ke dalam beberapa bagian:
1.Hukum sama saat atau serentak; dimana beberapa tanggapan yang dialami dalam waktu bersamaan cenderung untuk berasosiasi (hubungan antara tanggapan yang satu dengan tanggapan yang lainnya dalam jiwa) antara satu dengan yang lainnya.
2.Hukum berturutan; dimana beberapa tanggapan yang dialami berturut-turut, cenderung untuk berasosiasi antara satu dengan yang lainnya.
3.Hukum kesamaan atau kesesuaian; dimana beberapa tanggapan yang bersesuaian cenderung untuk berasosiasi antara satu denga yang lainnya.
4.Hukum berlawanan; dimana tanggapan-tanggapan yang saling berlawanan akan berasosiasi satu sama lainnya.
5.Hukum sebab akibat; dimana tanggapan yang mempunyai hubungan sebab akibat cenderung untuk berasosiasi satu sama lainnya.
Sehingga dalam belajar, agar ingatan anak lebih bisa dipertajam, maka:
a.Pada waktu menghafal hendaklah kondisi-kondisi diatur sedemikian rupa, sehingga dapat dicapai hasil maksimal; seperti menyuarakan, melafalkan, pembagian waktu belajar yang tepat, pemilihan tekhnik yang tepat, dan sebagainya.
b.Mereproduksi (pengaktifan kembali hal-hal yang telah dicamkan;dimana terdapat dua bentuk yakni, mengingat kembali/recall, dan mengenal kembali/recognition) dengan memperlancar dan memperkaya atau menyempurnakan bahasa yang disampaikan.
c.Agar interfensi dalam proses belajar lebih tajam, dapatlah diatur waktu untuk belajar sebaik mungkin, sehingga hal-hal yang dipelajari dapat tertanam benar dalam ingatan anak.
d.Setiap individu berbeda dalam kemampuannya mengingat, tapi tiap orang dapat meningkatkan kemampuan mengingatnya dengan pengaturan kondisi yang lebih baik dan penggunaan metode yang lebih tepat.
E.KONSEP-KONSEP BELAJAR
A.Konsepsi yang disusun atas dasar pemikiran Spekulatif
a.Belajar menurut ahli-ahli golongan Skolastik
Belajar itu pada hakikatnya ialah mengulang-ulang bahan yang harus dipelajari. Dengan semakin diulang, maka bahan pelajaran akan makin diingat.
b.Belajar menurut golongan Kontrareformasi
Inti kegiatan belajar adalah ulangan. Pokok atau induk belajar itu ialah mengulangi.
c.Belajar menurut konsepsi ahli-ahli psikologi Daya (the psychology of faculty)
Para ahli aliran ini memikirkan bahwa jiwa dianalogikan dengan raga atau jasmani.Sebagaimana jasmani memiliki daya, maka jiwapun dianggap memiliki daya,misalnya daya untuk mengenal,mengingat,berkhayal, berpikir, merasakan,menghendaki,dan sebagainya.Seluruh daya ini akan meningkat bila sering dilatih berulang-ulang.
d.Pendapat Herbart (teori tanggapan atau Vorstellungstheorie)
Herbert menentang teori daya, karena teori daya tidak dapat menerangkan kehidupan jiwa.Berlandaskan pada latar belakangnya sebagai seorang ahli matematika,Herbert ingin menerangkan kehidupan jiwa dengan cara matematis,dan berusaha mendapatkan unsur yang paling sederhana dari isi jiwa yaitu tanggapan atau vorstellung (jiwa kita berisi tanggapan-tanggapan) dan kebanyakan selalu dalam keadaan tidak kita sadari.Semakin kuat suatu tanggapan,maka makin besarlah peranannya dalam menentukan tingkah laku manusia.Secara matematis,masih menurut Herbert, kekuatan tersebut tergantung kepada dua (2) hal,yaitu:
1.Jelas atau tidaknya pada waktu pertama kali diterima oleh manusia;jadi makin jelas makin besar kekuatannya.
2.Frekuensinya atau sering-tidaknya tanggapan tersebut masuk ke dalam kesadaran,jadi makin sering suatu tanggapan masuk ke dalam alam kesadaran makin bertambah kekuatannya.
Untuk itu ada dua (2) hal yang harus ditempuh dalam mendidik sehingga bisa menentukan tingkah laku seseorang,yaitu:
1.memberikan tanggapn sejelas-jelasnya
2.memasukkan tanggapan tersebut sesring mungkin ke dalam kesadaran.
B.Pendekatan Eksperimental Ebbinghaus
Pendekatan ini menyatakan bahwa bahan yang ingin kita ingat dengan baik, haruslah terus-menerus kita ulangi.
C.Koneksionisme atau Bond-Psychologi (Teori Thorndike)
Yang menjadi dasar belajar ialah asosiasi (penyatuan) antara kesan panca indera (sense impression) dengan impuls untuk bertindak (impulse to action). Asosiasi seperti inilah yang disebut oleh Thorndike sebagai Bond Psychologi atau Connection.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ahmadi,Abu dan Nur Uhbiyati,Ilmu Pendidikan.
Jakarta:Rineka Cipta,2003.
2. Hill,Winfred F,Theories of Learning;Teori-teori Pembelajaran (Konsepsi,Komparasi,dan Signifikansi.
Bandung:Nusa Media,2009
3. Soeryabrata,Soemadi, Psikologi Pendidikan;Suatu Penyajian Secara Operasional,Jilid 2.
Yogyakarta:Rake Press,1981.
4. Soemanto,Wasty, Psikologi Pendidikan;Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan.
Jakarta:Rineka Cipta,2006.
5. Soetriono,dan Rita Hanafie,Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian.
Yogyakarta:Andi 2007.
6. Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM,Filsafat Ilmu;Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Yogyakarta:Liberty,2007.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar