MEMBENTUK KARAKTER GURU PROFESIONAL

MEMBENTUK KARAKTER GURU PROFESIONAL
NEGERI YANG DAMAI DAN PENUH PESONA

Sabtu, 01 Mei 2010

KEPEMIMPINAN VISIONER

KEPEMIMPINAN VISIONER
Oleh: Hayatuddin Fataruba/Mahasiswa Program Magister Unima
A. Pendahuluan
Pimpinan pada masa sekarang menghadapi lingkungan yang cepat berubah dengan percepatan (acceleration) yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kompetitor baru bermunculan dengan program inovasi yang tiada henti sehingga menggeser peran organisasi yang lambat beradaptasi. Sebagai konsekwensinya, organisasi selalu meningkatkan kemampuan untuk secara terus-menerus belajar dan beradaptasi dalam mencapai sukses jangka panjang dalam lingkungan yang dinamis. Dengan selalu belajar terus-menerus, maka sebuah organisasi akan semakin luwes dan dinamis menyesuaikan kondisi lingkungan organisasinya dengan kondisi lingkungan di sekitarnya yang terus mengalami perubahan.
Organisasi pembelajar (learning organization) adalah organisasi yang mampu mengembangkan kemampuan untuk terus-menerus menyesuaikan diri dan berubah (Wahyudi,2009:10). Melakukan pembelajaran berarti menetapkan strategi inovasi, perbaikan berkelanjutan, dan komitmen terhadap tugas dan tujuan organisasi. Organisasi pembelajar merupakan lingkungan yang kondusif bagi aktivitas kepemimpinan visioner, karena dapat tercipta iklim kerjasama yang sinergy antar sub sistem dalam organisasi sehingga anggota organisasi memiliki komitmen, integritas, dan tanggung jawab secara kolektif terhadap keseluruhan kinerja organisasi. Dengan melihat kenyataan lingkungan organisasi yang terus mengalami perubahan, maka peran pemimpin tidak hanya berusaha menyesuaikan organisasi terhadap pergerakan inovasi di luar, akan tetapi pemimpin yang berhasil apabila mampu membawa organisasi sebagai referensi bagi institusi lainnya. Sehingga agar dapat mewujudkan organisasi yang efektif dan kompetitif, keberadaan visi sangat penting bagi organisasi bersangkutan. Kekuatan kepemimpinan menghasilkan berbagai kebijakan dan operasionalisasi kerja yang dibimbing oleh visi organisasi. Sebuah organisasi yang ingin maju dan kompetitif harus mempunyai visi yang jelas, dipahami oleh semua anggota organisasi, baik jajaran manajemen sampai keamanan (security), bahkan sampai cleaning service atau bagian kebersihan.
B. Pengertian
Berbagai pengertian tentang kepemimpinan telah banyak dikemukakan oleh para pakar manajemen. Dari berbagai pengertian tersebut, berikut ini dikemukakan beberapa saja yang merupakan definisi yang lebih bersifat umum; artinya dapat dipakai disemua organisasi. Diantaranya adalah:
1. George Terry & Lesliem Rue (1985) dalam Husaini (2009)
Kepemimpinan dapat dipandang sebagai kemampuan seseorang atau pemimpin, untuk mempengaruhi perilaku orang lain menurut keinginan-keinginannya dalam suatu keadaan tertentu.
2. Harold Koontz & Heinz Weihrich (1988) dalam Kambey (2006)
Kepemimpinan sebagai suatu pengaruh, seni, atau proses mempengaruhi orang-orang agar mereka secara sukarela dan bersemangat berusaha mencapai tujuan kelompok.
3. J.L. Gibson, M.J. Ivancevich & J.H. Donnelly (1996) dalam Kambey (2006)
Kepemimpinan adalah suatu upaya penggunaan jenis pengaruh bukan paksaan (concoersive) untuk memotivasi orang-orang mencapai tujuan tertentu.
Sehingga dari ke-tiga definisi yang dikemukakan oleh para ahli tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa: Kepemimpinan adalah kemampuan berupa ketrampilan, skill (kecakapan), performa, dan pengalaman manajerial dan administrasi yang dimiliki seorang pemimpin dalam satu organisasi untuk mempengaruhi orang-orang agar dapat bekerjasama secara sukarela dalam mencapai tujuan tertentu dalam organisasi yang dipimpinnya.
Sementara itu, sebuah visi memiliki gambaran yang jelas, menawarkan suatu cara yang inovatif untuk memperbaiki, mendorong adanya tindakan-tindakan yang mungkin dilakukan untuk mewujudkan perubahan yang lebih baik. Dari gambaran ini, beberapa pakar menerjemahkan pengertian visi sebagai berikut:
1. Gaffar (1994) dikutip dari pidato pengukuhan Guru Besar FIP IKIP Bandung
Visi adalah daya pandang yang jauh, mendalam dan luas yang merupakan daya fikir abstrak yang memiliki kekuatan amat dahsyat dan dapat menerobos segala batas-batas fisik, waktu, dan tempat.
2. Nanus (2001)
Visi adalah masa depan organisasi yang realistis, dapat dipercaya, dan menarik bagi organisasi menuju kondisi yang lebih baik. Visi merupakan pernyataan tujuan organisasi; sebuah masa depan organisasi yang lebih baik, lebih berhasil, karena itu visi merupakan kunci energi manusia, kunci atribut pemimpin dan pembuat kebijakan.
3. H. Dawam Raharjo dalam Mulyono (2008)
Visi adalah bayangan tentang masa depan organisasi baik itu perusahaan atau lembaga
4. Lembaga Administrasi Negara (2005) dalam Mulyono (2008)
Visi adalah berkaitan dengan pandangan ke depan, ke mana instansi pemerintah harus dibawa dan diarahkan, agar dapat bekerja secara eksis, konsisten, antisipatif, inovatif, dan produktif.
Dengan demikian, dari pengertian sebagaimana dikemukakan diatas, dapatlah dikatakan bahwa gagasan visi muncul dari pimpinan, karena visi merupakan atribut kepemimpinan suatu lembaga dalam jangka panjang. Visi terbentuk, tumbuh, dan berkembang sebagai hasil daya pikir dan hasil dinamika proses psikologi seseorang atau sekelompok orang; manajer, pemimpin formal, informal, atau perorangan yang memiliki kemampuan berpikir konseptual untuk melahirkan, membentuk, dan mengembangkan visi tersebut. Dengan demikian visi adalah suatu gambaran masa depan mengenai keadaan organisasi yang dicita-citakan, yaitu organisasi yang lebih baik, inovatif, kompetitif, dan mampu mengubah diri dan lingkungan.
Sebuah visi memiliki hakikat antara lain; (a) searti dengan tujuan, sasaran dan hasil, (b) wujudnya lebih baik dari sekarang, (c) bersifat logis dan realistis, (d) menggambarkan pertumbuhan, perkembangan dan inovasi, (d) berkenaan dengan kepentingan bersama, (e) memiliki waktu jangka panjang.
Sehingga dari hakikat visi ini, seorang pemimpin visioner dituntut memiliki pandangan jauh ke depan tentang apa yang dicita-citakan pada organisasinya secara mendalam. Dengan demikian akan memiliki karakteristik visi yang baik. Visi yang baik sekurang-kurangnya; (a) harus sesuai dengan semangat zaman dan spirit organisasi, (b) harus menggambarkan sosok organisasi secara komprehensif sebagaimana yang diidamkan, (c) harus mampu menjelaskan arah dan tujuan organisasi, (d) harus mampu membangkitkan antusias dan komitmen dalam merealisasikannya, (e) harus mampu jadi panduan strategis organisasi, dan menjadi sosok organisasi masa depan.
C. Kepemimpinan Visioner
Kepemimpinan adalah bagian penting dari manajemen. Sehingga dalam satu organisasi, peran pemimpin jelas sekali merupakan peran yang paling penting dari semua peran komponen organisasi. Di dalam manajemen, fungsi seorang pemimpin adalah menggugah keinginan seseorang untuk melaksanakan suatu hal yang harus ditempuh dan membina anggota kelompoknya ke arah penyelesaian hasil kerja kelompok tersebut. Sehingga kemampuan pemimpin dalam menggunakan kepemimpinannya sangatlah penting.
Kepemimpinan visioner adalah kemampuan pemimpin untuk menciptakan dan mengartikulasikan suatu visi yang realistik, dapat dipercaya, atraktif tentang masa depan bagi suatu organisasi atau unit organisasional yang terus bertumbuh dan meningkat sampai saat ini (Robbins;1994). Pemimpin mempunyai kekuatan untuk mencapai tujuan organisasi. Hal ini didasari oleh legitimasi secara formal atau non formal yang melekat pada diri pemimpin. Pemimpin lebih leluasa menciptakan kreasi dan inovasi untuk mengembangkan organisasi, sekalipun tugas dan resiko yang dihadapi lebih berat dibandingkan bawahan, namun seringkali seorang pemimpin dapat mencapai kepuasan diri (satisfaction) karena dapat mengaktualisasikan diri dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Sehingga dampak positif pada diri pemimpin adalah peluang karier yang lebih tinggi sebagai penghargaan atas prestasi yang telah dicapai. Kepuasan lainnya adalah dapat berbuat lebih banyak untuk kepentingan orang lain/masyarakat. Sehingga apabila visi yang telah ditetapkan tersebut dapat dilaksanakan, maka visi tersebut dapat menyalurkan emosi dan energi menciptakan kegairahan yang kemudian menimbulkan energi dan komitmen yang kuat dalam organisasi.
Selanjutnya Komariah (2005) dalam Wahyudi (2009) mengemukakan bahwa kepemimpinan visioner (visionary leadership) dapat diartikan sebagai kemampuan pemimpin dalam mencipta, merumuskan, mengkomunikasikan, mensosialisasikan, mentransformasikan, dan mengimplementasikan pemikiran-pemikiran ideal yang berasal dari dirinya atau sebagai hasil interaksi sosial diantara anggota organisasi dan stakeholders yang diyakini sebagai cita-cita organisasi di masa depan yang harus dicapai melalui komitmen semua personil.
Dengan demikian kepemimpinan visioner (visionary leadership) adalah kemampuan pemimpin untuk mencetuskan ide atau gagasan suatu visi selanjutnya melalui dialog yang kritis dengan unsur pimpinan/anggota organisasi dan stakeholders lainnya, merumuskan masa depan organisasi yang dicita-citakan yang harus dicapai melalui komitmen semua anggota organisasi melalui proses sosialisasi, transformasi, implementasi gagasan-gagasan ideal oleh pemimpin organisasi.
Karena sifat dasar suatu visi adalah untuk memberi inspirasi yang berpusat pada nilai dan dapat diwujudkan, maka dibutuhkan gambaran dan artikulasi yang unggul sehingga bisa menciptakan kemungkinan-kemungkinan yang memberi inspirasi dan menawarkan suatu tatanan baru, lebih menantang (challenge) namun dapat dicapai, yang dapat menghasilkan kualitas organisasi yang lebih kompetitif. Dengan demikian pemimpin visioner harus bisa memahami elemen-elemen visi agar terarah dalam menggambarkan arah dan langkah yang akan ditempuh oleh organisasinya.
Menurut Quigley (1993) dalam Wahyudi (2009:20), elemen dari the leader’s Vision and Values, antara lain: (1) visi sebagai sumber kekuatan mendasar, (2) nilai-nilai sebagai landasan visi, (3) misi dan tujuan-tujuan, dan (4) strategi-strategi dan taktik.
Sehingga dapatlah dikatakan bahwa sebagai sumber kekuatan mendasar, visi merupakan atribut kepemimpinan suatu lembaga atau organisasi yang membuat arah dan tujuan lembaga dalam jangka panjang. Dengan demikian yang harus diketahui adalah: (a) apa yang menjadi keyakinan yang mendasar dari institusi (nilai), (b) apa kondisi saat ini dan apa yang menjadi aspirasi (misi), dan (c) apa yang menjadi komitmen institusi dan kemana institusi akan dibawa (goals). Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini merupakan elemen esensial dari visi.
Sebagai landasan visi, nilai-nilai organisasi sebagai aturan atau panduan dimana organisasi mendesak anggota-anggotanya untuk berperilaku konsisten dengan perintah dan perkembangan. Para pendiri organisasi biasanya menetapkan satu kesatuan nilai pada saat mereka mendirikan organisasi, dan biasanya jauh sebelum pengembangan misi atau tujuan. Nilai-nilai ini berupa core beliefs (keyakinan tentang kebenaran visi dan kebenaran jalan yang dipilih untuk mewujudkan visi), dan core values (nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh lembaga dalam perjalanan mewujudkan visi). Nilai-nilai inilah yang kemudian akan menjadi pegangan dalam organisasi untuk selalu menjaga konsistensi komponen organisasi atas keyakinan yang menyatukan mereka dalam organisasi tersebut.
Sementara misi dan tujuan organisasi akan merespons pertanyaan “apa yang ingin dicapai?”. Sehingga berangkat dari pertanyaan ini, maka langkah-langkah yang dilakukan adalah memprediksi (a) bagaimana kondisi lingkungan yang akan dihadapi organisasi?, (b) kebutuhan apa yang harus dipenuhi/diprioritaskan?, (c) apa dan siapa yang ingin digarap?, (d) jenis, jenjang, dan model apa yang akan dikelola?, dan (e) apa yang terbaik dilakukan untuk mengelolanya?. Dalam menciptakan/merumuskan misi yang bermanfaat, terdapat apa yang disebut “predictor of success” yang meletakkan preferensi dari keahlian memprediksi masa depan, tingkat kepercayaan, mengkombinasikan keuntungan, dan kontribusi-kontribusi yang dipilih berdasarkan nilai-nilai yang telah ditetapkan, dan termotivasi oleh nilai-nilai tersebut. Prediksi keberhasilan ini menjadi panduan yang istimewa bagi organisasi yang berusaha untuk membuat artikulasi tentang misi yang berbeda atau berubah dikemudian hari. Namun misi sebaiknya dipikirkan dan diprediksi sebaik mungkin agar tetap stabil dan tidak selalu berganti-ganti, akan tetapi terus-menerus dievaluasi dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan yang akan terus berubah.
Sedangkan dalam mengimplementasikan visi, diperlukan strategi dan taktik. Menurut Handoko (1992), strategi adalah program umum untuk pencapaian tujuan-tujuan organisasi dalam pelaksanaan misi. Strategi memberikan pengarahan terpadu bagi organisasi dan berbagai tujuan organisasi, memberikan pedoman pemanfaatan sumberdaya-sumberdaya organisasi yang digunakan untuk mencapai tujuan. Selanjutnya taktik menurut Wahyudi (2009) adalah rencana action jangka pendek dan dilanjutkan dengan evaluasi yang kontinu serta perubahan-perubahan dalam pengendalian.
Strategi ini akan merespons pertanyaan “bagaimana organisasi mencapai tujuan jangka panjang?, bagaimana mewujudkan tujuan-tujuan tersebut dalam kenyataan?”. Sedangkan taktik akan merspons pertanyaan “apa program-program jangka pendek yang dibutuhkan untuk mendukung strategi?”.
Setelah visi teridentifikasi dan ditentukan, maka pemimpin harus mampu menjelaskan dan mem peragakan visi agar dapat diterima oleh anggota dan dapat dilaksanakan. Sehingga disinilah letak kemampuan atau ketrampilan seorang pemimpin untuk memberikan keyakinan menyeluruh kepada komponen organisasinya tentang apa yang ingin dicapai dalam perjalanan organisasi yang dipimpinnya.

D. Kepemimpinan Visioner dalam Organisasi Pendidikan Tingkat Mikro
Dengan diterapkannya Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, maka sekolah sebagai komponen organisasi pendidikan tingkat mikro ini telah diberi keleluasaan dalam memanaj institusinya sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungannya. Dengan demikian pemimpin di institusi ini (kepala sekolah) memiliki fungsi yang sama dengan fungsi pemimpin pada organisasi formal lainnya.
Kepemimpinan visioner kepala sekolah sangat dibutuhkan pada lembaganya disebabkan karena: (a) perkembangan iptek begitu cepat dan akan berpengaruh pada semua aspek kehidupan, termasuk teknologi pendidikan, (b) era global akan menyebabkan lalu lintas tenaga kerja sangat mudah, sehingga akan banyak tenaga kerja asing berimigrasi antar negara, (c) era informasi menyebabkan siswa mendapatkan informasi dari berbagai sumber secara cepat, sehingga guru nanti bukan lagi satu-satunya sumber informasi iptek, (d) era global akan berpengaruh terhadap perilaku dan moral manusia sehingga sekolah diharapkan berperan menanamkan nilai-nilai akhlak, (e) kesadaran orangtua akan pentingnya pendidikan bermutu ternyata paralel dengan persaingan antar sekolah untuk menggaet anak jenius dengan orang tua yang penuh perhatian terhadap upaya pendidikan, sehingga sekolah yang mutunya jelek akan ditinggalkan, (f) di era global seperti AFTA, maka tidak menutup kemungkinan akan terbuka peluang pembukaan cabang sekolah asing di tiap-tiap negara anggotanya termasuk Indonesia, sehingga persaingan antar lembaga pendidikan ini akan sangat tinggi.
Tantangan tersebut harus direspons oleh sekolah, hingga visi sekolah harus mampu mengakomodasi dan memanfaatkan peluang yang terkandung pada perkembangan tersebut.
Sehingga dalam mengimbangi berbagai keadaan yang begitu cepat berubah, kepala sekolah tidak hanya dituntut sebagai educator, dan administrator, melainkan juga harus berperan sebagai manajer dan supervisor yang mampu menerapkan manajemen yang bermutu (Wahyudi:2009). Indikasinya ada pada iklim kerja dan proses pembelajaran yang konstruktif, berkreasi, dan berprestasi. Manajemen sekolah tidak lain berarti pendayagunaan dan penggunaan sumberdaya yang ada dan dapat diadakan secara efisien dan efektif untuk mencapai visi dan misi sekolah. Sehingga kepala sekolah merupakan ruh sekolah bersangkutan. Sederhananya, keberhasilan sekolah tergantung pada teknik kepala sekolah mengelola manusia dan sumberdaya yang ada di sekolah, dengan merencanakan, mengorganisasi, mengadakan staf, mengarahkan orientasi/sasaran, mengkoordinasi, memantau, dan menilai/mengevaluasi.
Dalam kegiatan perencanaan, garapan bidang sasaran dibagi, dipilah, dikelompokkan serta diprioritaskan, dengan memperhatikan hasil pertimbangan partisipatif. Begitu pula pengadaan staf, yang dilakukan adalah berpikir tentang siapa yang diperlukan dan dipercayakan dalam bidang garapan itu, bagaimana mengerjakannya, kapan mulai dan kapan selesai. Sehingga sebagai seorang manajer, kepala sekolah bertanggungjawab dan yakin bahwa kegiatan-kegiatan yang terjadi di sekolah adalah menggarap rencana dengan benar lalu mengerjakannya dengan benar pula.
Sehingga perilaku kepemimpinan visioner harus dapat:
1. Menciptakan dan mengkomunikasikan visi dan tujuan
2. Melaksanakan pemikiran dan perencanaan strategis dan fleksibel
3. Memfasilitasi rekan kerja, bawahan, dan perkembangan tim
4. Memfasilitasi perkembangan organisasi
5. Melindungi individu dari kekuatan yang merusak
6. Melindungi organisasi dari kekuatan yang merusak
7. Mencari dan mengkomunikasikan konsensus antar tim
8. Mengspesifikasi pedoman hidup, nilai-nilai, dan menciptakan budaya
9. Menciptakan cara pandang
10. Memotivasi orang-orang untuk bertindak.


DAFTAR PUSTAKA
Gaffar, M.F. (1994). Visi: Suatu Inovasi dalam Proses Manajemen Strategik Perguruan Tinggi.
Pidato Pengukuhan Guru Besar Tetap dal Ilmu Pendidikan dengan
Spesialisasi Manajemen dan Perencanaan Pendidikan pada Jurusan
Administrasi Pendidikan FIP IKIP Bandung:IKIP Bandung

Hanafi, Mamduh.M. (2003). Manajemen. Edisi Revisi. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Handoko, T.H. (1992). Manajemen. Edisi 2. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi UGM
Kambey, D.C. (2006). Landasan Teori Administrasi/Manajemen. Manado: Yayasan Tri Ganesha
Mulyono. (2008). Manajemen Administrasi & organisasi Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media
Nanus, B. (2001). Kepemimpinan Visioner; Menciptakan Kesadaran akan arah dan Tujuan di
Dalam Organisasi. Alih Bahasa: Frederik Ruma. Jakarta: Prenhallindo.

Robbins, S.P. (1994). Teori Organisasi; Struktur, Desain & Aplikasi. Edisi 3. Alih Bahasa Jusuf
Udaya. Jakarta: Arcan

Suryosubroto, B. (2004). Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta
Usman, Husaini. (2009). Manajemen, Teori, Praktik, dan Riset Pendidikan.Jakarta: Bumi Aksara
Wahyudi. (2009). Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Organisasi Pembelajar (Learning
Organization). Bandung: Alfabeta

Yukl, Gary. (2009). Leadership in Organization (Kepemimpinan Dalam Organisasi). Jakarta:
Indeks

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar