MEMBENTUK KARAKTER GURU PROFESIONAL

MEMBENTUK KARAKTER GURU PROFESIONAL
NEGERI YANG DAMAI DAN PENUH PESONA

Senin, 03 Mei 2010

PENGKONDISIAN BELAJAR (CONDITIONING LEARNING)

PENGKONDISIAN BELAJAR (CONDITIONING LEARNING)
DALAM RANGKA MEMPERKUAT MOTIVASI ANAK PADA PROSES PEMBELAJARAN
(Makalah disampaikan pada Seminar Hari Guru di Kampus Universitas Negeri Manado)
Disusun oleh
HAYATUDDIN FATARUBA

I.PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Aktivitas belajar bagi setiap individu tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang menggairahkan, lancar, cepat memahami apa yang dipelajari, dan cepat menangkap apa yang diberikan guru dalam proses pembelajaran, namun ada yang sebaliknya tidak bisa berkonsentrasi. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, tapi pada intinya ada dua faktor utama yang berperan sangat penting dalam aktivitas anak dalam proses belajarnya yakni, faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi faktor fisiologis dan psikologis anak, dan faktor eksternal meliputi faktor sosial budaya dan faktor non-sosial anak.
Kurikulum secara berkelanjutan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan berorientasi pada kemajuan sistem pendidikan nasional, tampaknya belum dapat direalisasikan secara maksimal. Salah satu masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah lemahnya proses pembelajaran.
Berdasarkan kenyataan real di lapangan dari berbagai hasil riset dan penelitian, proses pembelajaran di sekolah dewasa ini kurang meningkatkan kreatifitas siswa. Masih banyak tenaga pendidik yang belum memahami psikologi belajar dan psikologi pendidikan yang masih menggunakan metode konvensional secara monoton dalam kegiatan pembelajarannya di kelas, sehingga suasana proses pembelajaran terkesan kaku, kurang bergairah, dan kegiatan dimonopoli atau didominasi oleh guru. Padahal proses belajar itu pada intinya harus lebih mengutamakan peserta didik.
Proses pembelajaran yang dilakukan banyak tenaga pendidik saat ini cenderung pada pencapaian target materi kurikulum, lebih mementingkan pada penghafalan konsep bukan pada pemahaman. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran di kelas yang selalu didominasi oleh guru. Dalam penyampaian materi pelajaran biasanya guru menggunakan metode yang tidak pernah divariasikan dan hanya itu-itu saja, dimana siswa hanya duduk mencatat dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru dan sedikit sekali peluang bagi siswa untuk bertanya. Dengan demikian suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.
Dari faktor-faktor ini, maka guru/orang tua dituntut untuk harus memahami betul aspek-aspek pendukung pembelajaran, karena setiap anak memiliki perbedaan karakter terhadap apa yang akan dipelajari. Perbedaan-perbedaan seperti inilah yang sering kita jumpai di dalam setiap proses pembelajaran, baik itu di sekolah maupun di rumah. Padahal setiap anak memiliki kecenderungan untuk mengetahui segala sesuatu, namun tidak semua pengetahuan itu akan melekat kuat dalam memorinya, begitu pula tidak semua pengetahuan itu akan memberikan rangsangan kepada anak untuk memahaminya lebih jauh.
Pada hakikatnya inti persoalan belajar terletak pada anak didik, sebab pendidikan adalah perlakuan terhadap anak didik yang secara psikologis perlakuan tersebut harus selaras dengan keadaan anak didik. Dengan demikian, permasalahan psikologis yang berperan dalam proses pendidikan anak dapat terjawab apabila guru dapat memberikan bantuan kepada anak didik agar berkembang secara wajar melalui konsep-konsep belajar, model belajar dan perlakuan-perlakuan psikologis dalam belajar yang dapat merangsang motivasi anak untuk merespons setiap stimuli belajar yang dikondisikan oleh guru.
Dengan demikian, maka pemahaman dan prinsip yang selama ini melekat kuat dalam pandangan guru bahwa yang penting guru mahir menguasai bahan ajar dan mahir menggunakan berbagai perangkat pendukung pembelajaran maka kegiatan belajar akan sukses, dan merupakan pandangan yang sangat keliru itu bisa dirubah dengan paradigma bahwa tidaklah cukup hanya dengan menguasai bahan ajar dan ketrampilan menggunakan perangkat pembelajaran saja.
Karena kenyataan di lapangan juga menunjukkan bahwa akhir-akhir ini, dengan semakin lengkapnya sarana prasarana pendukung pembelajaran berupa buku-buku manual, buku-buku elektronik, alat-alat peraga manual, alat-alat peraga berupa animasi komputer, audio visual dan lain-lain belum menjamin siswa menguasai bahan ajar secara maksimal. Mengapa demikian, karena guru melupakan salah satu faktor penting dalam diri anak yang merupakan potensi yang memotivasi anak untuk belajar, yakni faktor internal anak. Memang tidak bisa kita pungkiri bahwa faktor eskternal akhir-akhir ini lebih kita kedepankan, disebabkan karena kita lebih menaruh perhatian terhadap bagaimana mempersiapkan anak untuk memasuki pangsa pasar tenaga kerja, sehingga kita melupakan esensi penting dari belajar yakni life skill (pengalaman seumur hidup) sang anak untuk mempersiapkan dirinya berada di tengah-tengah lingkungan sosialnya. Dengan keteledoran kita inilah yang kemudian melahirkan anak-anak yang selesai dan tuntas melalui jenjang-jenjang pendidikan formalnya, namun tidak memiliki pengetahuan yang memadai untuk berada di tengah-tengah lingkungan sosialnya, apalagi mengembangkan dirinya dan mengembangkan lingkungan sosialnya. Bahkan anak akan menjadi terasing dalam lingkungan sosialnya sendiri.
Pengkondisian belajar yang seharusnya merangsang dan memotivasi anak untuk memahami apa yang dipelajarinya untuk menjadi bekal pengetahuannya di masa yang akan datang, berubah menjadi pengkondisian belajar untuk menciptakan anak siap bekerja.
Dengan demikian kita mengkhianati potensi anak yang seharusnya bisa berkembang untuk menjadi dirinya sendiri, mampu menciptakan sendiri lapangan pekerjaannya sendiri, berubah menjadi anak yang membutuhkan pekerjaan dan harus bergantung kepada orang lain secara terus menerus.
BAB. II PEMBAHASAN MASALAH
A.PENGERTIAN BELAJAR
Kalau ditanyakan apakah belajar itu? Maka jawaban yang kita dapatkan akan berfariasi, disebabkan karena banyak aktivitas yang dilakukan oleh hampir semua orang dapat disebut perbuatan belajar. Dengan demikian, maka definisi tentang belajar inipun bermacam-macam. Di bawah ini dikemukakan beberapa definisi belajar yang dapat dipakai sebagai data untuk mencari inti persoalannya:
1. Crombach (didalam bukunya Educational Psychology, 1954:47)dalam Sumadi Suryabrata (2006)menyatakan bahwa; learningis shown by a change in behavior as a result of experience (Belajar yang sebaik-baiknya adalah dengan mengalami; dan dalam mengalami itu si pelajar mempergunakan panca inderanya).
2. Harold Spears (1955:94) dalam Sumadi Suryabrata (2006)menyatakan bahwa; learning is to observe,to read,to imitate,to try something themselves,to listen,to follow direction (belajar adalah mengamati, membaca, meniru, mencoba sesuatu, mendengarkan dan mengikuti petunjuk).
3. Mc.Geoh (dalam Skinner,1958:109) dalam Sumadi Suryabrata (2006) menyatakan bahwa; learning is a change in performance as a result of practice (belajar adalah suatu perubahan yang dicapai setelah mencoba sesuatu atau mempraktekkan sesuatu).
4. William Stern (dalam Stern, 1950:313) dalam Sumadi Suryabrata (2006)menyatakan bahwa; learn ist kenntnisserwerb durch wiedurholte darbeitungen (der ansignung neur fertigkeiten durch wiederholung die rede.
5. James O.Wittaker (dalam Psychologi Pendidikan landasan kerja pemimpin pendidikan;Drs.Wasty Soemanto; 2006) menyatakan bahwa; belajar dapat didefinisikan sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
6. Di dalam buku yang sama, Howard L.Kingsley menyatakan bahwa; belajar adalah proses dimana tingkah laku (dalam artian luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.

Sehingga dari definisi-definisi yang dikemukakan para ahli sebagaimana tersebut di atas, maka didapatkan hal-hal pokok mengenai belajar sebagai berikut:
a.bahwa belajar itu membawa perubahan (dalam arti behavioral changes, aktual maupun
potensial)
b.bahwa perubahan itu pada intinya adalah didapatkannya kecakapan baru.
c.bahwa perubahan-perubahan itu terjadi karena usaha (dengan sengaja).
d.bahwa belajar semakin efektif, dibutuhkan latihan-latihan atau pengalaman-pengalaman.
B.TEORI-TEORI BELAJAR
Sebuah teori pembelajaran biasanya memiliki tiga (3) fungsi yang berbeda namun saling terkait erat. Pertama, teori pembelajaran adalah pendekatan terhadap suatu bidang pengetahuan;suatu cara menganalisis,membicarakan dan meneliti pembelajaran. Kedua, belajar itu berupaya untuk meringkas sekumpulan besar pengetahuan mengenai hukum-hukum pembelajaran ke dalam ruang yang cukup kecil. Dan yang Ketiga, secara kreatif belajar itu berupaya menjelaskan apa itu pembelajarn dan mengapa pembelajaran berlangsung seperti adanya. Dewasa ini terdapat bermacam-macam teori dalam membahas belajar ini, sebagaimana dikutip dari Winfred F. Hill dalam bukunya “Theories of learning”diantaranya:
1.Teori Belajar Aliran Behavioristik (tingkah laku) yang menekankan pada hasil.
Pandangan dari teori ini adalah perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respons. Atau dengan kata lain, belajar adalah perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respons. Para ahli yang merumuskan teori ini antara lain:
a.Thorndike (1911)
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus (yang mungkin berupa pikiran,perasaan atau gerakan) dan respons (yang juga bisa berupa pikiran, perasaan atau gerakan).
b.Watson (1963)
Menurut Watson, stimulus dan respons tersebut harus berbentuk tingkah laku yang bisa diamati (observable)
c.Clark Hull (1943)
Menurut Hull, tingkah laku seseorang berfungsi untuk menjaga kelangsungan hidup oleh karena itu, kebutuhan biologis dan pemuasan kebutuhan biologis menempati posisi sentral dimana kebutuhan dikonsepkan sebagai dorongan (drive),seperti lapar,haus,tidur,hilangnya rasa nyeri dan sebagainya (stimulus hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis ini meskipun respons mungkin bermacam-macam bentuknya).
d.Edwin Guthrie (teori kontiguiti)
Menurut Guthrie, belajar merupakan kaitan asosiatif antara stimulus tertentu dan respons tertentu. Hubungan antara stimulus dengan respons merupakan faktor kritis dalam belajar, untuk itu diperlukan pemberian stimulus yang sering agar hubungan menjadi lebih langgeng. Selain itu, suatu respons akan lebih kuat (bahkan menjadi kebiasaan) apabila respons tersebut berhubungan dengan berbagai macam stimulus.
Guthrie juga mengemukakan bahwa hukuman memegang peranan penting dalam proses belajar. Suatu hukuman yang diberikan pada saat yang tepat, akan mampu mengubah kebiasaan seseorang.
e.Skinner (1968) (neo-behavioris,yang mengalihkan dari laboratorium ke praktik kelas)
Menurut Skinner, hubungan antara stimulus dan respons untuk menjelaskan perubahan tingkah laku (dalam hubungannya dengan lingkungan) seperti Hull dan Guthrie adalah deskripsi yang tidak lengkap. Mengapa? karena respons yang diberikan oleh siswa tidaklah sesederhana itu, sebab pada dasarnya setiap stimulus yang diberikan berinteraksi satu dengan yang lainnya, dan interaksi itu akhirnya mempengaruhi respons yang dihasilkan. Sedangkan respons yang diberikan juga menghasilkan berbagai konsekuensi, yang pada gilirannya akan mempengaruhi tingkah laku siswa. Oleh karena itu untuk memahami tingkah laku siswa secara tuntas, diperlukan pemahaman terhadap respons itu sendiri, dan berbagai konsekuensi yang diakibatkan oleh respons tersebut.
2.Teori Belajar Aliran Kognitif (mementingkan proses)
Teori belajar Kognitif merupakan suatu teori belajar yang lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Menurut penganut teori ini, belajar bukan hanya sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respons, tetapi lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks.
Menurut teori ini, ilmu pengetahuan dibangun dalam diri seorang individu melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Dalam praktik, teori ini antara lain terwujud dalam “tahap-tahap perkembangan yang diusulkan Jean Piaget, “belajar bermakna” yang dikonsepkan oleh Ausubel, dan “belajar penemuan secara bebas (free discovery learning)”nya Jerome Bruner.
a.Jean Piaget (1975)
Menurut Jean Piaget, proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga (3) tahapan, yakni:
1. Asimilasi adalah proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke struktur kognitif yang sudah ada dalam benak siswa.
Bagi seseorang yang sudah mengetahui prinsip penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan prinsip perkalian, maka terjadi proses pengintegrasian antara proses penjumlahan (yang sudah ada di benak siswa) denga prinsip perkalian (sebagai informasi baru dari guru).
2. Akomodasi adalah penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru.
Jika seseorang diberikan soal perkalian, maka yang bersangkutan akan menggunakan prinsip-prinsip perkalian. Berarti pemakaian (aplikasi) prinsip-prinsip perkalian tersebut dalam situasi yang baru dan lebih spesifik.
3. Equilibrasi (penyeimbangan) adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
Agar seseorang dapat terus berkembang dan menambah ilmunya, maka yang bersangkutan menjaga stabilitas mental dalam dirinya, diperlukan proses penyeimbangan (antara dunia luar dengan dalam). Tanpa proses ini, perkembangan kognitif seseorang akan tersendat-sendat dan berjalan tidak teratur (disorganized).

b.Ausubel (1968)
Menurut Ausubel, siswa akan belajar dengan baik jika konsep atau informasi umum yang mewadahi (mencakup) semua isi pelajaran yang akan diajarkan kepada siswa (advance organizers).
Ausubel yakin bahwa “advance organizers (pengatur kemajuan belajar)” dapat memberikan tiga (3) manfaat, yakni:
1. dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi belajar yang akan dipelajari siswa.
2. dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sedang dipelajari siswa saat ini dengan apa yang akan dipelajari siswa sedemikian rupa.
3. mampu membantu siswa untuk memahami bahan ajar secara lebih mudah.

c.Bruner (1960) (free discovery learning)
Menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan (termasuk konsep,teori,definisi,dan sebagainya) melalui contoh-contoh yang menggambarkan (mewakili) aturan yang menjadi sumbernya (dengan kata lain siswa dibimbing secara induktif untuk memahami suatu kebenaran umum).
Disamping itu, Brunner juga mengemukakan perlunya ada teori pembelajaran yang akan menjelaskan asas-asas untuk merancang pembelajaran yang efektif di kelas.
Menurut pandangan Bruner, bahwa teori belajar itu bersifat deskriptif, sedangkan teori pembelajaran bersifat preskriptif. Misalnya teori belajar memprediksikan berapa usia maksimum anak untuk belajar penjumlahan, sedangkan teori pembelajaran menguraikan bagaimana cara-cara mengajarkan penjumlahan.
3.Teori Belajar Aliran Humanistik.
Dari beberapa teori belajar, teori Humanistik inilah yang paling abstrak dan yang paling mendekati dunia filsafat daripada dunia pendidikan. Teori ini lebih menekankan isi dari proses belajar dan lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuk paling ideal daripada belajar seperti apa adanya. Pakar yang mengusulkan teori ini selain dari Ausubel dengan teori belajar bermakna (meaningful learning)-nya, juga beberapa ahli antara lain:
1.Bloom dan Krathwohl
Mereka mengemukakan bahwa apa yang mungkin dipelajari atau dikuasai siswa,tercakup dalam:
a.Kognitif
Kognitif terdiri dari 6 (enam) tingkatan:
1. pengetahuan (mengingat,menghafal)
2. Pemahaman (menginterpretasikan)
3. aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan suatu masalah)
4. analisis (menjabarkan suatu konsep)
5. sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh)
6. evaluasi (membandingkan nilai,ide,metode dan sebagainya)
b.Psikomotor
Psikomotor terdiri dari 5 (lima) tingkatan:
1. peniruan (menirukan gerak)
2. penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak)
3. ketepatan (melakukan gerak dengan benar)
4. perangkaian (melakukan beberapa gerak sekaligus denga benar)
5. naturalisasi (melakukan gerak secara wajar)
c.Afektif
Afektif terdiri dari 5 (lima) tingkatan:
1. pengenalan (ingin menerima,sadar akan adanya sesuatu)
2. merespons (aktif berpartisipasi)
3. penghargaan (menerima nilai-nilai,setia kepada nilai-nilai tertentu)
4. pengorganisasian (menghubung-hubungkan nilai-nilai yang dipercayai)
5. pengalaman (menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidup).
Sedangkan David R.Krathwohl dalam buku “A taksonomy for learning, teaching, and assessing” sebagaimana dikutip oleh Winfred F. Hill (2009) dalam bukunya “theories of learning”, mengadakan refisi aspek kemampuan kognitif dari Bloom dengan memilah menjadi 2 (dua) dimensi yakni, dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif. Dalam dimensi pengetahuan, didalamnya meuat objek ilmu yang disusun dari (1) pengetahuan fakta, (2) pengetahuan konsep, (3) pengetahuan prosedural, dan (4) pengetahuan meta kognitif. Sedangkan dalam dimensi proses kognitif, didalamnya memuat enam tingkatan meliputi (1) mengingat, (2) mengerti, (3) menerapkan, (4) menganalisis, (5) mengevaluasi, dan (6) mencipta.
2.Kolb
Kolb membagi tahapan belajar menjadi 4 (empat) tahap:
a.pengalaman konkret
b.pengamatan aktif dan reflektif
c.konseptualisasi, dan
d.eksperimentasi aktif.

3.Honey dan Mumford
Berdasarkan teori Kolb, Honey dan Mumford (dalam Abu Ahmadi;2004) membuat penggolongan siswa dalam 4 (empat) type:
1.aktifis; mereka yang suka melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman terbaru.
2.reflektor; mereka sangat cenderung berhati-hati mengambil langkah.
3.teoris; mereka biasanya sangat kritis, senang menganalisis, dan tidak menyukai pendapat
atau penilaian yang sifatnya subjektif.
4.pragmatis; mereka biasanya menaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dari segala hal.
4.Habermas
Dalam pandangan Habermas, belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan sesama manusia. Dengan asumsi ini, maka Habermas mengelompokkan type belajar menjadi 3 (tiga) bagian:
1. belajar tekhnis (technical learning); dimana siswa belajar bagaimana berinteraksi dengan alam sekelilingnya.
2. belajar praktis (practical learning); dimana siswa juga belajar berinteraksi, tetapi antara siswa dengan orang-orang disekelilingnya saja.
3. belajar emansipatoris (emancipator learning); dimana siswa berusaha mencapai pemahaman dan kesadaran yang sebaik mungkin tentang perubahan (transformasi) kultural dari suatu lingkungan. Oleh Habermas, transformasi kultural inilah yang dianggap sebagai tujuan pendidikan yang paling tinggi).
4.Teori Belajar Aliran Sibernetik.
Menurut teori ini, belajar adalah pengolahan informasi. Sekilas teori ini mirip teori kognitif yang lebih mementingkan proses. Namun yang lebih penting lagi dari teori ini adalah sistem informasi yang diproses, karena informasi inilah yang menentukan proses.
Assumsi lain dari teori ini adalah bahwa tidak ada satu proses belajar pun yang ideal untuk segala situasi, yang cocok untuk semua siswa.
Para pendukung dan pengembang teori ini antara lain:
a.Landa (pendekatan algoritmik dan heuristic)
Menurut Linda, ada 2 (dua) macam proses berpikir. Pertama disebut proses berpikir algoritmik, yaitu proses berpikir linear, konvergen, lurus menuju ke satu target tertentu, dan yang kedua disebut cara berpikir heuristic, yaitu cara berpikir divergen menuju ke beberapa target sekaligus.
Proses belajar akan berjalan dengan baik jika apa yang hendak dipelajari atau masalah yang hendak dipecahkan diketahui ciri-cirinya, lebih tepatnya apabila disajikan dalam bentuk “terbuka” dalam urutan teratur, linier, sekuensial dan memberi keleluasaan siswa untuk berimajinasi dan berfikir. Namun untuk memahami satu konsep yang lebih luas dan banyak memiliki interpretasi, maka akan lebih baik jika proses berpikir siswa dibimbing ke arah yang “menyebar (heuristic)” sehingga pemahaman mereka terhadap konsep tersebut tidak monoton, tunggal atau dogmatis.
b.Pask dan Scott (pembagian siswa type wholist dan type serial).
Konsep yang diusulkan dalam teori ini hampir sama dengan pendekatan algoritmik, namun cara berpikir menyeluruh adalah cara berpikir yang cenderung melompat ke depan langsung ke gambaran lengkap dan utuh dalam sebuah sistem informasi.
Dengan demikian menurut teori Sibernetik ini, agar proses belajar berjalan seoptimal mungkin, bukan hanya cara kerja otak kita yang perlu dipahami, tetapi juga lingkungan yang mempengaruhi mekanisme itupun perlu diketahui.
C.HUKUM-HUKUM BELAJAR
Dalam proses belajar (sebagaimana dikutip dalam buku Theories of Learning: Winfred F. Hill), terjadi hubungan antara tanggapan (bayangan yang tinggal dalam ingatan setelah kita melakukan pengamatan) yang satu dengan tanggapan yang lainnya dalam jiwa. Menurut ahli-ahli psychology, hubungan antara tanggapan-tanggapan itu ada semacam kekuatan halus yang menyebabkan bahwa apabila tanggapan yang satu memasuki wilayah kesadaran, maka tanggapan itu akan memanggil tanggapan yang lain dan membawanya memasuki wilayah kesadaran.
Sehingga kekuatan tanggapan ini menimbulkan sebab akibat yang berdasarkan aturan atau hukum-hukum tanggapan, dapat dibagi ke dalam beberapa bagian:
1.Hukum sama saat atau serentak; dimana beberapa tanggapan yang dialami dalam waktu bersamaan cenderung untuk berasosiasi (hubungan antara tanggapan yang satu dengan tanggapan yang lainnya dalam jiwa) antara satu dengan yang lainnya.
2.Hukum berturutan; dimana beberapa tanggapan yang dialami berturut-turut, cenderung untuk berasosiasi antara satu dengan yang lainnya.
3.Hukum kesamaan atau kesesuaian; dimana beberapa tanggapan yang bersesuaian cenderung untuk berasosiasi antara satu denga yang lainnya.
4.Hukum berlawanan; dimana tanggapan-tanggapan yang saling berlawanan akan berasosiasi satu sama lainnya.
5.Hukum sebab akibat; dimana tanggapan yang mempunyai hubungan sebab akibat cenderung untuk berasosiasi satu sama lainnya.
Sehingga dalam belajar, agar ingatan anak lebih bisa dipertajam, maka:
a.Pada waktu menghafal hendaklah kondisi-kondisi diatur sedemikian rupa, sehingga dapat dicapai hasil maksimal; seperti menyuarakan, melafalkan, pembagian waktu belajar yang tepat, pemilihan tekhnik yang tepat, dan sebagainya.
b.Mereproduksi (pengaktifan kembali hal-hal yang telah dicamkan;dimana terdapat dua bentuk yakni, mengingat kembali/recall, dan mengenal kembali/recognition) dengan memperlancar dan memperkaya atau menyempurnakan bahasa yang disampaikan.
c.Agar interfensi dalam proses belajar lebih tajam, dapatlah diatur waktu untuk belajar sebaik mungkin, sehingga hal-hal yang dipelajari dapat tertanam benar dalam ingatan anak.
d.Setiap individu berbeda dalam kemampuannya mengingat, tapi tiap orang dapat meningkatkan kemampuan mengingatnya dengan pengaturan kondisi yang lebih baik dan penggunaan metode yang lebih tepat.
D.KONSEP-KONSEP BELAJAR
1.Konsepsi yang disusun atas dasar pemikiran Spekulatif
Belajar (sebagaimana dikutip dalam buku Psikologi Pendidikan: Sumadi Suryabrata:2004) a.Menurut ahli-ahli golongan Skolastik
Belajar itu pada hakikatnya ialah mengulang-ulang bahan yang harus dipelajari. Dengan semakin diulang, maka bahan pelajaran akan makin diingat.
b.Menurut golongan Kontrareformasi
Inti kegiatan belajar adalah ulangan. Pokok atau induk belajar itu ialah mengulangi.
c.Menurut konsepsi ahli-ahli psikologi Daya (the psychology of faculty)
Para ahli aliran ini memikirkan bahwa jiwa dianalogikan dengan raga atau jasmani.Sebagaimana jasmani memiliki daya, maka jiwapun dianggap memiliki daya,misalnya daya untuk mengenal,mengingat,berkhayal, berpikir, merasakan,menghendaki,dan sebagainya. Seluruh daya ini akan meningkat bila sering dilatih berulang-ulang.
d.Menurut pendapat Herbart (teori tanggapan atau Vorstellungstheorie)
Herbert menentang teori daya, karena teori daya tidak dapat menerangkan kehidupan jiwa. Berlandaskan pada latar belakangnya sebagai seorang ahli matematika, Herbert ingin menerangkan kehidupan jiwa dengan cara matematis,dan berusaha mendapatkan unsur yang paling sederhana dari isi jiwa yaitu tanggapan atau vorstellung (jiwa kita berisi tanggapan-tanggapan) dan kebanyakan selalu dalam keadaan tidak kita sadari.Semakin kuat suatu tanggapan,maka makin besarlah peranannya dalam menentukan tingkah laku manusia.Secara matematis,masih menurut Herbert, kekuatan tersebut tergantung kepada dua (2) hal,yaitu:
1.Jelas atau tidaknya pada waktu pertama kali diterima oleh manusia;jadi makin jelas makin besar kekuatannya.
2.Frekuensinya atau sering-tidaknya tanggapan tersebut masuk ke dalam kesadaran,jadi makin sering suatu tanggapan masuk ke dalam alam kesadaran makin bertambah kekuatannya.
Untuk itu ada dua (2) hal yang harus ditempuh dalam mendidik sehingga bisa menentukan tingkah laku seseorang,yaitu:
1.memberikan tanggapn sejelas-jelasnya
2.memasukkan tanggapan tersebut sesring mungkin ke dalam kesadaran.
2.Pendekatan Eksperimental Ebbinghaus
Pendekatan ini menyatakan bahwa bahan yang ingin kita ingat dengan baik, haruslah terus-menerus kita ulangi.
3.Koneksionisme atau Bond-Psychologi (Teori Thorndike)
Yang menjadi dasar belajar ialah asosiasi (penyatuan) antara kesan panca indera (sense impression) dengan impuls untuk bertindak (impulse to action). Asosiasi seperti inilah yang disebut oleh Thorndike sebagai Bond Psychologi atau Connection.
E.KONDISI-KONDISI BELAJAR
Pada dasarnya anak belajar melalui cara-cara sebagai berikut:
1. Eksplorasi
Siswa/anak mencari dan mendapatkan ilmu pengetahuan tentang sesuatu melalui seluruh inderanya, kemudian dikembangkan melalui berbagai usaha, melakukan sendiri dengan macam-macam kemungkinan.
2. Coba-coba
Melalui trial and error siswa belajar memecahkan masalah
3. Rasa tidak senang
Dengan merasakan tidak senang/penderitaan, ia akan belajar menghindari kesalahan
4. Rasa gembira
Sesuatu yang menyenangkan cenderung untuk diulangi, dan sebaliknya sesuatu yang tidak menyenangkan cenderung untuk dihindari
5. Imitasi
Belajar melalui peniruan atau melalui pengamatan yang sering dilakukan oleh anak
6. Partisipasi
Dengan belajar melalui peniruan berarti anak akan berpartisipasi secara aktif (learn by doing)
7. Komunikasi
Makin mudah berkomunikasi, maka akan menarik bagi anak akan sesuatu hal untuk dipelajari.
Sehingga hal-hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam setiap proses pembelajaran adalah dimana anak; sebagaimana setiap individu, memiliki sifat-sifat aktifitas diantaranya:
1. Perhatian
Perhatian adalah pemusatan tenaga psikis tertuju kepada sesuatu objek (Stern 1950, dalam Sumadi Suryabrata,2006)
Sehingga dapatlah dikatakan bahwa perhatian membutuhkan kesadaran di setiap aktifitas yang dilakukannya. Sehingga agar lebih spesifik dalam membedakan formulasi perhatian, dapat digolongkan atas:
a. Atas dasar intensitas (banyak sedikit kesadaran yang menyertai aktifitas)
• Perhatian intensif
• Perhatian tidak intensif
b. Atas dasar cara timbulnya
• Perhatian spontan (tak sekehendak/tak disengaja)
• Perhatian refleksif (sekehendak/disengaja)
c. Atas dasar luasnya objek
• Perhatian distributif (terpancar)
• Perhatian konsentratif (terpusat)
Dari beberapa penggolongan perhatian sebagaimana tersebut di atas, maka aktifitas yang disertai dengan perhatian intensif akan lebih sukses, prestasinya lebih tinggi. Namun perlu diperhatikan juga bahwa, perhatian spontan cenderung untuk berlangsung lebih lama dan lebih intensif daripada perhatian yang disengaja. Namun dalam kenyataan, sebagian besar pelajaran justru diterima oleh siswa dengan perhatian yang disengaja. Sehingga guru harus selalu berusaha untuk menarik perhatian siswa dengan berbagai macam model dan desain pembelajaran yang menarik perhatiannya.
2. Pengamatan
Pengamatan adalah kemampuan yang dimiliki individu untuk mengenal dunia riil, baik dirinya sendiri maupun lingkungannya dengan melihat, mendengar, membau, mengecap, dan merasa dengan panca inderanya.
Reaksi pengamatan dari setiap individu (Abu Ahmadi,2004:22) digambarkan sebagai berikut : S – O – R
S = Stimulus (perangsang)
O = Organisasi (mengolah stimulus)
R = Respons (reaksi yang diberikan setelah terjadinya suatu stimuli)
Sehingga pengamatan itu terjadi setelah penginderaan, objeknya nyata, terikat waktu dan tempat, serta jelas yang akan memunculkan tanggapan.
Kekuatan tanggapan anak berbeda, dipengaruhi oleh jenis tanggapan diantaranya:
a. Tipe Virtual, artinya manusia itu mempunyai ingatan yang baik/kuat dari apa yang dilihatnya.
b. Tipe Auditif, artinya manusia memiliki ingatan yang kuat dari apa yang didengarnya.
c. Tipe Motorik, artinya manusia mempunyai ingatan yang kuat dari rangsangan yang bergerak
d. Tipe Tekstual, artinya manusia mempunyai ingatan yang baik dari apa yang diraba
e. Tipe Campuran, artinya semua indra memiliki kemampuan yang seimbang, sehingga pada waktu seseorang mengindra menggunakan semua indra.
Dari pengertian diatas, maka guru dalam mendesain setiap bahan ajar yang akan diberikan kepada anak, hendaklah mempertimbangkan kemampuan pengamatan dan jenis-jenis tanggapan yang dimiliki anak apakah berfungsi sempurna ataukah tidak untuk menghindari kesalah pahaman konsep tentang apa yang diajarkan.
3. Ingatan
Ingatan ialah suatu daya yang dapat menerima, menyimpan, dan mereproduksi kembali kesan-kesan, tanggapan-tanggapan, dan pengertian-pengertian (Abu Ahmadi,2004:26). Sehingga secara teori dapat kita bedakan adanya tiga aspek dalam berfungsinya ingatan yakni:
a. Mencamkan (menerima kesan-kesan)
Mencamkan dapat terjadi secara sengaja (sekehendak) atau menghafal dan secara tidak sengaja (tidak sekehendak)
b. Menyimpan kesan-kesan
c. Mereproduksi kesan-kesan
Ingatan yang baik mempunyai sifat antara lain: cepat atau mudah mencamkan, setia, teguh, luas dalam menyimpan, siap sedia dalam mereproduksi kesan-kesan. Sedangkan ingatan cepat artinya mudah dalam mencamkan sesuatu hal tanpa menjumpai kesukaran. Ingatan setia artinya apa yang telah diterima (dicamkan) itu akan disimpan sebaik-baiknya, taka akan berubah-ubah, jadi tetap cocok dengan keadaan waktu menerimanya. Ingatan teguh artinya dapat menyimpan kesan dalam waktu yang lama, tidak mudah lupa. Ingatan luas artinya dapat menyimpan banyak kesan-kesan. Ingatan siap artinya mudah dapat mereproduksikan kesan yang telah disimpannya.
4. Tanggapan
Tanggapan didefinisikan sebagai bayangan yang tinggal dalam ingatan setelah kita melakukan pengamatan (Bigot dkk 1950 dalam Sumadi Suryabrata,2006)
Memang dalam tanggapan tidak hanya kita mampu menghidupkan kembali apa yang telah kita amati dimasa lampau tetapi juga bagaimana kita dapat mengantisipasi apa yang akan diamati dimasa akan datang. Sehingga dengan kondisi seperti ini, tanggapan dapat dibagi atas:
a. Tanggapan masa lampau atau ingatan
b. Tanggapan masa kini atau representatif
c. Tanggapan masa datang atau tanggapan antisipatif
Untuk memperkuat suatu tanggapan, maka dibutuhkan bayangan-bayangan penguat. Bayangan-bayangan tersebut antara lain:
• Bayangan pengiring, yakni bayangan yang timbul setelah kita melihat sesuatu warna. Bayangan ini ada dua macam:
1. Bayangan pengiring positif, yaitu bayangan pengiring yang sama dengan warna objeknya.
2. Bayangan pengiring negatif, yaitu bayangan pengiring yang tak sama dengan warna objeknya, melainkan seperti warna komplemen dari warna objek.
• Bayangan eidetic, yakni bayangan yang sangat jelas dan hidup, sehingga menyerupai pengamatan.
Selain bayangan-bayangan penguat, hal-hal yang paling utama diperhatikan adalah kekuatan tanggapan anak lebih banyak berhubungan dengan kekuatan inderawinya sehingga objek-objek yang mengiringi tanggapan seperti: visual, auditif, taktil, gustative, dan olfaktoris perlu diperkuat agar tanggapan anak bisa lebih sempurna.
5. Fantasi
Fantasi didefinisikan sebagai daya untuk membentuk tanggapan-tanggapan baru dengan pertolongan tanggapan-tanggapan yang sudah ada, dan tanggapan baru itu tidak harus sesuai dengan benda-benda yang ada.
Fantasi dapat digolongkan atas dua macam:
1. Fantasi tak disadari, yakni fantasi yang terjadi dengan tidak disengaja.
2. Fantasi yang disadari, yakni fantasi yang terjadi dengan disengaja, dan ada upaya untuk masuk ke dunia imajiner. Fantasi ini dibagi atas:
a. Fantasi secara aktif yang dikendalikan oleh pikiran dan kemauan.
b. Fantasi secara pasif yang tidak dikendalikan sehingga seolah-olah subjeknya hanya pasif saja sebagai wadah terjadinya tanggapan-tanggapan.
Sehingga fantasi-fantasi akan berada pada:
 Fantasi yang bersifat mengabstraksikan, dimana bila dalam berfantasi ada bagian-bagian yang dihilangkan.
 Fantasi yang bersifat mendeterminasikan, dimana bila dalam berfantasi itu sudah ada skema tertentu lalu diisi dengan gambaran lain.
 Fantasi yang bersifat mengkombinasikan, dimana bila dalam berfantasi terjadi penggabungan bagian dari tanggapan yang satu dengan tanggapan yang lain.
Dengan demikian maka, fantasi memungkinkan orang menempatkan diri dalam hidup kepribadian orang lain sehingga bisa memahami sesama, dapat menyelami sifat manusia sehingga bisa memahami kodisi sifat dan budaya orang lain, menjadikan orang memahami apa yang terjadi ditempat lain dan waktu yang lain, memungkinkan melepaskan diri dari kesukaran yang dihadapi, menyelesaikan konflik-konflik, dan mampu menciptakan apa yang dicita-citakan.
6. Berpikir
Berpikir adalah daya jiwa yang dapat meletakkan hubungan-hubungan antara pengetahuan kita (Abu Ahmadi:2004).
Berpikir secara garis besarnya dibagi atas 2 (dua) bagian (Team Dosen Filsafat Ilmu UGM,2007:97) yakni:
• Berpikir alamiah yakni pola penalaran yang berdasarkan kebiasaan sehari-hari dari pengaruh alam sekelilingnya
• Berpikir ilmiah yakni pola penalaran berdasarkan sarana tertentu secara teratur dan cermat.
Perkembangan berpikir anak sejalan dengan perkembangan kesadarannya yang biasanya dimulai dari taraf konkret ke taraf bagan lalu ke taraf abstrak.
Agar berpikir anak itu terangkai secara sempurna maka menurut:
• Para ahli ilmu jiwa asosiasi, bahwa berpikir itu berlangsung secara mekanis dimana individu dalam hal ini anak akan menarik tanggapan-tanggapan yang sejenis dengan tanggapan-tanggapan yang tak sejenis
• Para ahli ilmu jiwa apersepsi, bahwa dalam proses berpikir itu jiwa selalu aktif memberikan arah dan mengatur proses berpikir tersebut
• Para ahli ilmu jiwa berpikir, bahwa berpikir merupakan pergaulan antara pengertian-pengertian.
Berpikir merupakan proses dinamis yang menempuh tiga langkah berpikir, yang menurut Syaiful Sagala (2009):
1. Pembentukan pengertian , yaitu melalui proses mendiskripsi ciri-ciri objek yang sejenis, mengklasifikasi ciri-ciri yang sama, mengabstraksi denga menyisihkan, membuang, dan menganggap ciri-ciri yang hakiki
2. Pembentukan pendapat, yaitu meletakkan hubungan antar dua buah pengertian atau lebih yang hubungan itu dapat dirumuskan secara verbal berupa pendapat menolak, pendapat menerima atau mengiyakan, dan pendapat asumtif yaitu mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan suatu sifat pada suatu hal
3. Pembentukan keputusan, yaitu penarikan kesimpulan yang berupa keputusan sebagai hasil pekerjaan akal berupa pendapat baru yang dibentuk berdasarkan pendapat-pendapat yang sudah ada.
Sehingga proses berpikir itu diarahkan oleh:
1. Soal/masalah yang dijumpai
2. Berpikir itu menggunakan pengertian-pengertian yang kompleks
3. Berpikir itu menggunakan bagan/skemata
4. Berpikir itu memerlukan cara-cara tertentu
5. Berpikir membutuhkan rangsangan/stimuli tertentu
6. Berpikir untuk membentuk pengertian,pendapat, dan keputusan.
Oleh karena itu kemampuan guru dalam merangsang inteligensi anak dalam berpikir sangat dibutuhkan.
F. MOTIVASI
Masalah memotivasi siswa dalam belajar merupakan masalah yang sangat kompleks. Dalam usaha memotivasi siswa tersebut, tidak ada aturan-aturan yang sederhana, sehingga dibutuhkan kepekaan guru terhadap kompleksitas masalah motivasi ini. Guru hendaklah mengetahui prinsip-prinsip motivasi yang dapat membantu pelaksanaan tugasnya dalam mengajar meskipun tidak ada pedoman khusus dalam masalah ini.
• Motivation refers to the drive and effort to satisfy a want or goal (Harold Koonts dalam D.C.Kambey:2006)
• Motivasi sebagai suatu proses psikologis yang mencerminkan interaksi antara sikap, kebutuhan, persepsi, dan keputusan yang terjadi pada diri seseorang (Wahjosumidjo dalam D.C. Kambey:2006)
• Motivasi dapat dipahami sebagai suatu variabel penyelang yang digunakan untuk menimbulkan faktor-faktor tertentu di dalam organisme, yang membangkitkan, mengelola, mempertahankan, dan menyalurkan tingkah laku menuju sutu sasaran (Syaiful Sagala,2009:100)
• Motivasi ialah keseluruhan proses penggalakkan/peningkatan motif seseorang sedemikian rupa yang mendorongnya melakukan sesuatu (bertingkah laku) dengan bersemangat untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam upaya memuaskan kebutuhannya (Daniel C.Kambey,2006:81)
• Motifasi ialah suatu perubahan tenaga di dalam diri/pribadi seseorang yang ditandai oleh dorongan efektif dan reaksi-reaksi dalam usaha mencapai tujuan (Mc Donald dalam Wasty Soemanto:2006).
Dari definisi yang disampaikan oleh para ahli sebagaimana tersebut di atas, maka dapatlah disimpulkan bahawa:
 Motivasi dimulai dengan suatu perubahan tenaga dalam diri sesorang
 Motifasi ditandai oleh dorongan afektif
 Motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi mencapai tujuan
 Motivasi tersimpul dari tingkah laku
Motivasi menurut Syaiful Sagala (2009) pada dasarnya dibagi atas dua:
1. Motivasi instrinsik: dorongan/kekuatan dalam diri individu agar mencapai keinginan/kehendak
2. Motivasi ekstrinsik: dorongan yang timbul untuk mencapai tujuan yang datang dari luar dirnya.
Lebih lanjut Wasty Soemanto (2006) menjelaskan bahwa:
1. Motivasi instrinsik (inner component/elemen dalam) ini berupa perubahan yang terjadi di dalam diri seseorang berupa keadaan tidak puas, atau ketegangan psikologis. Rasa ini bisa timbul oleh karena keinginan-keinginan untuk memperoleh penghargaan, pengakuan, serta berbagai macam kebutuhan lainnya.
2. Motivasi ekstrinsik (outer component/elemen luar) ini berupa tujuan yang ingin dicapai.
Dalam proses pembelajaran, siswapun termotivasi dengan prinsip-prinsip sebagaimana disebutkan di atas sehingga melahirkan hukum-hukum belajar sebagaimana hasil eksperimen Thorndike:
• Low of readiness, dimana hukum ini menunjukkan keadaan-keadaan dimana siswa/anak cenderung untuk mendapatkan kepuasan atau ketidakpuasan, menerima atau menolak sesuatu. Dalam hal ini apabila motivasi instrinsik dan ekstrinsik siap berkonduksi maka akan mebawa kepuasan, bila salah satu diantara motivasi ini atau kedua-duanya tidak siap maka akan menimbulkan ketidak puasan. Sehingga belajar dan hasil yang didapat harus terkondukasi sempurna agar siswa/anak akan merasa puas.
• Low of exercise, dimana hukum ini menunjukkan keadaan bahwa apabila motivasi yang selalu diulang-ulang akan memberikan penguatan dalam belajar. Sehingga dalam belajar, bahan ajar selalu diberikan secara berulang-ulang agar dapat merangsang sevara sempurna kekuatan belajar anak.
• Low of effect, dimana hukum ini menunjukkan bahwa bila hubungan antara rangsangan dan respons menguat, maka motivasipun akan semakin kuat dan menimbulkan kepuasan dan tanggapan yang luar biasa.
Dengan demikian, motivasi ini dapat didorong karena pada setiap individu terdapat motif-motif berupa keinginan dan kebutuhan.
Anak/siswa dalam belajar, juga pada dasarnya sangat membutuhkan motivasi-motivasi guna merangsang kemauan dan kemampuannya untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Agar motivasi anak ini, maka Victor H. Vroom dalam Daniel C. Kambey 2006, mengemukakan Expectancy Theory (teori harapan), yakni bagaimana guru berusaha menggerakkan, mengarahkan, menguatkan, memelihara dan menghentikan perilaku siswa agar dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan ingin dicapai dalam proses pembelajaran, diantaranya:
• Expectancy (harapan), dimana guru harus memiliki kepastian bahwa hasil proses pembelajaran siswa akan muncul mengikuti suatu tindakan berupa rangsangan-rangsangan dalam metode pembelajaran yang disajikannya. Ini disebut daya tarik hasil, dimana seberapa jauh guru memberi arti penting dari proses pembelajarannya
• Valence (nilai), dimana guru harus memiliki kepastian bahwa dalam proses pembelajarannya akan mencapai hasil yang memuaskan, karena siswa juga membutuhkan pengetahuan tentang apa yang dipelajari, dan apa yang akan didapatnya sehingga guru memiliki kekuatan untuk memotivasi siswanya agar memperoleh nilai yang diinginkan siswanya tersebut
• Instrumentality (pertautan), dimana guru harus mengetahui bahwa siswa memilki motivasi untuk belajar karena menginginkan sesuatu bisa diperolehnya dari proses belajar tersebut sehingga siswa tersebut akan berupaya untuk memperoleh hal tersebut, seperti ingin mendapatkan nilai bagus, pengakuan sebagai siswa terpandai, memperoleh penghargaan, dan sebagainya.
Sehingga dengan harapan-harapan dan keinginan-keinginan yang dimiliki siswa tersebut, guru dituntut untuk bisa menggerakkan siswanya untuk mencapai apa yang diinginkan dengan berbagai metode dan strategi dalam proses pembelajaran agar belajar bisa sukses mencapai tujuan yang diinginkan oleh guru dan siswanya tersebut.
G.PENGKONDISIAN BELAJAR
Dalam setiap situasi belajar, terutama dalam merancang kegiatan belajar, guru perlu mengetahui prinsip-prinsip yang mempengaruhi proses belajar, yaitu kondisi belajar yang secara khusus berpengaruh terhadap keberhasilan kegiatan belajar, baik kondisi umum maupun kondisi khusus untuk mempelajari segi-segi tertentu dalam kegiatan belajar anak. Pengkondisian belajar dapat dilakukan antara lain:
1. Kondisi Umum
Dalam setiap belajar, sekurang-kurangnya ada enam kondisi umum belajar yang perlu diketahui dan dilakukan oleh guru.
a) Stimulasi belajar
Pesan yang diterima anak/siswa dapat berbentuk stimulus (visual, auditif, verbal, taktil, gustative, dan olfaktoris) sehingga dalam kegiatan belajar, setiap bahan yang disajikan guru harus dapat diterima oleh anak/siswa. Agar pesan yang disampaikan itu benar-benar diterima anak/siswa maka:
• Bahan/stimuli yang disajikan lebih representatif sehingga membantu anak/siswa untuk lebih mengenali stimuli yang diberikan kepadanya dengan jelas.
• Setiap penyajian bahan ajar diupayakan sering dilakukan penyajian secara berulang-ulang untuk memperkuat daya ingat anak terhadap apa yang disajikan.
• Sering menyebutkan kembali/mengingatkan apa yang telah disampaikan dengan sesering mungkin memberikan stimuli yang sama/sejenis yang pernah disajikan diwaktu lampau untuk mengingatkan kembali apa yang pernah dan akan dipelajari.
b) Perhatian dan motivasi
Jika stimulus pengajaran tidak memberikan kebutuhan tingkat masukan sensoris, mungkin anak akan mengadakan proses internal informasi lain (berpaling ke masalah yang lain), bahkan mungkin menutup diri dari seluruh proses belajar. Oleh karena masalah ini selalu timbul dari stimulus maka variasi adalah cara yang efektif untuk mempertahankan perhatian karena
• Sementara siswa mungkin lebih siap dalam suatu cara atau situasi tertentu
• Jumlah kemampuan untuk transfer informasi dapat dikembangkan melalui berbagai variasi penyajian, karena perhatiantidak pernah lengkap maka pengulangan tertentu perlu dilakukan agar pengajaran lebih efektif.

Salah satu usaha guru untuk membimbing perhatian anak/siswa yaitu melalui pemberian rangsangan/stimuli yang menarik perhatian anak, yang dapat ditunjukkan melalui 3 (tiga) segi:
1) Segi objek, dimana hal-hal yang menarik perhatian yaitu hal-hal yang keluar dari konteksnya seperti:
 Benda yang bergerak dalam situasi lingkungan yang diam atau tenang
 Warna benda yang lain dari warna benda-benda di sekitarnya
 Stimuli yang beraksi berbeda dari aksi lingkungannya
 Keadaan, sifat, sikap, dan cara yang berbeda dari biasanya
 Hal yang muncul mendadak dan hilang mendadak
2) Segi subjek/anak, dimana hal-hal yang menarik perhatian adalah hal-hal yang sangat bersangkut paut dengan pribadi subjek/anak seperti:
 Hal-hal yang bersangkut paut dengan kebutuhan anak
 Hal-hal yang bersangkut paut dengan minat dan kesenangan anak
 Hal-hal yang bersangkut paut dengan profesi dan keahlian anak
 Hal-hal yang bersangkut paut dengan sejarah atau pengalaman anak
 Hal-hal yang ersangkut paut dengan tujuan dan cita-cita anak
3) Segi komunikator/guru, dimana komunikator/guru yang membawa anak ke dalam posisi yang sesuai dengan lingkungannya seperti
 Guru yang memberikan pelayanan khusus kepada anak
 Guru yang menampilkan dirinya di luar konteks lingkungannya
 Guru yang memiliki sangkut paut dengan anak
 Guru menggunakan metode penyajian pelajaran yang dapat diterima anak
 Metode yang digunakan sesuai dengan minat, kebutuhan, dan kemampuan anak.
c) Respons yang dipelajari
Belajar itu proses aktif, maka anak/siswa harus dilibatkan ke dalam bahan yang dipelajarinya meliputi; perhatian, proses internal dalam informasi, serta tindakan yang nyata. Agar hasil belajar dapat dinilai, maka tujuan harus dirumuskan dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati. Karena respons siswa dibandingkan dengan tujuan harus ada penyesuaian, misalnya kalau pengenalan merupakan tujuannya, maka siswa disuruh memilih beberapa alternatif jawaban yang diberikan.
d) Penguatan dan umpan balik
Secara teori bila sesuatu kegiatan dapat memuaskan suatu kebutuhan, maka ada kecenderungan besar untuk mengulanginya. Sumber penguat belajar dapat secara ekstrinsik (nilai, pengakuan, penghargaan) dan dapat secara instrinsik (kegairahan untuk menyelidiki, mengartikan situasi. Siswa memerlukan dan harus menerima umpan balik dari guru secara langsung tingkat kesuksesannya dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan guru.
e) Pemakaian dan pemindahan
Pikiran manusia sanggup menyimpan informasi dan kata-kata dalam jumlah yang hampir tidak terbatas.
Salah satu prinsip untuk pemakaian kembali informasi yang telah dipelajari adalah mind (jiwa) harus membuat suatu alamat terhadap stimulus yang tersedia pada saat dibutuhkan.
Salah satu cara yaitu dengan mengadakan asosiasi belajar dengan memperluas pembentukan asosiasi bermakna karena dapat meningkatkan kemampuan untuk pemindahan (transfer) apa yang sudah dipelajari anak.
Asosiasi yang luas dengan cara pemberian bahan ajar yang bermakna, orientasi pengetahuan siswa, contoh-contoh yang jelas, pemberian latihan, dan sebagainya.
f) Kemampuan untuk belajar
Belajar yang efektif harus dapat mengambil manfaat dari semua kemampuan anak seperti:
• Kemampuan anak untuk mengenal dan menghubungkan pola visual
• Kemampuan anak mengamati waktu belajarnya
• Kemampuan anak menentukan tujuan belajarnya
• Kemampuan verbal anak yang memungkinkan komunikasinya.

2. Kondisi khusus
Ada 5 (lima) jenis kondisi belajar khusus yang berlaku untuk kegiatan belajar anak seperti:
• Kondisi belajar informasi
Yang termasuk belajar informasi adalah belajar lambang, kata-kata, istilah-istilah, definisi, persamaan, pernyataan sifat, dan lain-lain. Informasi yang dipelajari sering disebut fakta pengetahuan atau isi yang biasa dipelajari dengan menghafalkan, karena menghemat waktu bila sering digunakan. Sehingga yang perlu diperhatikan guru adalah:
 Siswa perlu diberi penjelasan tentang apa yang harus dipelajari, hasil yang diharapkan, manfaat bahan ajar/materi baginya
 Asas apersepsi pada saat memulai pembelajaran harus dilakukan
 Siswa diberi kesempatan untuk selalu berlatih
 Memberi banyak latihan sesering mungkin dalam rangka mengingatkan kembali siswa akan bahan ajar yang dipelajari
 Bila mempelajari bahan secara keseluruhan tidak ada hubungan yang logis, maka gunakan teknik belajar bagian demi bagian bila hubungannya logis.
• Kondisi belajar konsep
Mempelajari konsep mempunyai tiga dimensi yakni:
 Terjadi pengembangan secara internal pola mental anak yang memberikan perasaan dan kemampuan untuk menggunakannya
 Terjadi kemampuan verbalisasi, deskripsi, dan definisi anak
 Kemampuan anak pada pemberian nama untuk konsep tersebut
Kondisi khusus belajar konsep adalah:
 Direnungkannya arah/orientasi dan aplikasi konsep oleh anak
 Terjadi peninjauan unsur-unsur prasyarat pengetahuan anak
 Stimulus yang sederhana disajikan dari bagian-bagian secara simultan dan dalam urutan yang erat
 Perluas asosiasi anak dengan contoh-contoh
 Pertajam kemampuan diskriminasi anak dengan banyak contoh
 Berikanlah latihan-latihan untuk meninjau kembali seberapa jauh kemampuan anak dala mempelajari konsep yang telah diberikan
 Ujian kemampuan untuk mengamati contoh-contoh yang telah disajikan.
• Kondisi belajar prinsip
Belajar prinsip sama dengan belajar konsep. Prinsip merupakan sarana penting untuk meramalkan, dan memecahkan masalah. Kondisi khusus belajar prinsip antara lain:
 Perluas asosiasi anak dengan berbagai contoh
 Secara umum memulai suatu konsep/bahan ajar dari yang konkret sampai teori(abstrak), dari sederhana menuju kompleks
 Selalu meninjau kembali apa yang telah diajarkan dan latih anak menggunakan prinsip-prinsip.
• Kondisi belajar ketrampilan
Ketrampilan dibedakan menjadi dua yaitu ketrampilan intelektual dan ketrampilan psikomotorik. Belajar ketrampilan memerlukan latihan dalam mengkoordinasikan gerak motorik dengan kegiatan mental yang kompleks (senso-motorik)
Kondisi khusus belajar ketrampilan antara lain:
 Tujuan dan nilai dijelaskan kepada anak/siswa
 Ditujukan demonstrasi dari anak yang mampu ke kurang mampu
 Ketrampilan-ketrampilan dasarnya diberikan kepada anak/siswa
 Untuk meningkatkan perbaikan, perlu evaluasi kegiatan secara cepat dan umpan baliknya diberikan oleh guru.
• Kondisi belajar sikap
Bentuk-bentuk penguasaan sikap antara lain perhatian dan ganjaran. Karena itu jika siswa menjauhi guru dan sekolah, karena pengalaman negatif terhadap pela-
jaran yang pernah diterimanya begitu pula sebaliknya. Sehingga guru perlu memperhatikan kondisi khusus belajar sikap pada anak antara lain:
 Sajikan pernyataan logis yang konsisten dari orang terhormat atau teman yang digenai
 Ciptakan suasana belajar yang bersahabat
 Jika sikap bertentangan dengan nilai sosial, maka lingkungan sosial diubah
 Proses pembelajaran dengan kelompok kecil dapat memberikan penguatan
 Penguatan guru dan kelompok anak secara terus menerus sangat diharapkan.

3. Strategi Pengajaran
Strategi pengajaran berhubungan dengan pemilihan kegiatan belajar mengajar yang paling efektif dalam memberikan pengalaman belajar yang diperlukan anak untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam tujuan khusus pengajaran yang ingin dicapai. Dengan kata lain pengajaran adalah kegiatan yang dipilih guru dalam proses belajar mengajar yang dapat memudahkan (fasilitas) siswa menuju tercapainya tujuan belajar yang diinginkan. Dalam memilih kegiatan pengajaran harus dipertimbangkan:
a. Masalah efisiensi yang bertalian dengan penggunaan waktu, fasilitas, dan kemam- puan guru yang tersedia
b. Perbedaan individual anak/siswa tentang penerimaan dan aplikasi pengetahuan
c. Metode penyampaian yang dapat mengembangkan interaksi siswa-guru atau siswa dengan siswa
d. Tujuan belajar yang bersifat perubahan sikap dan tingkah laku serta pola pikir anak.
Sehingga strategi pengajaran tidak hanya ditentukan oleh kemampuan guru semata-mata dalam menguasai bahan ajar, melainkan juga oleh sifat dan karakteristik masing-masing model mengajar dan metode yang dipilih dalam mengajar untuk mencapai tujuan pembelajarannya.
A. Model Pembelajaran

Untuk mengatasi berbagai problematika dalam pelaksanaan pembelajaran guru di kelas, maka diperlukan model-model mengajar. Model oleh Syaiful Sagala (2009) dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan.
Sehingga model dapat dipahami sebagai:
a. Suatu type atau desain
b. Suatu deskripsi atau analogi yang dipergunakan untuk membantu proses visualisasi sesuatu yang tidak dapat diamati secara langsung
c. Suatu sistem asumsi-asumsi, data-data, dan inferensi-inferensi yang dipakai untuk menggambarkan secara matematis suatu objek atau peristiwa
d. Suatu desain yang disederhanakan dari suatu sistem kerja, atau suatu terjemahan realitas yang disederhanakan
e. Suatu deskripsi dari suatu sistem yang mungkin atau imajiner
f. Penyajian yang diperkecil agar dapat menjelaskan dan menunjukkan sifat bentuk aslinya (Komaruddin;2000 dalam Sagala;2009)
Dengan demikian maka model dirancang untuk mewakili realitas yang sesungguhnya, walaupun model itu sendiri bukanlah realitas dari dunia yang sebenarnya. Atas dasar pengertian tersebut diatas, maka model mengajar dapat dipahami sebagai kerangka konseptual yang mendeskripsikan dan melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perencanaan pengajaran bagi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.
Joyce dan Weil (2000) dalam Sagala (2009) mengemukakan ada 4 (empat) kategori yang penting diperhatikan dalam model mengajar yakni:
a. Model pemrosesan informasi (Information Processing Models) yang menjelaskan bagaimana cara individu memberi respons yang datang dari lingkungannya dengan cara mengorganisasikan data, memformulasikan masalah, membangun konsep dan rencana pemecahan masalah, serta penggunaan simbol-simbol verbal dan non-verbal
Model ini memberikan kepada siswa sejumlah konsep, mengetes hipotesis, dan memusatkan perhatian pada kemampuannya.
b. Model personal (Personal Family) yang menekankan pada proses mengembangkan kepribadian siswa dengan memperhatikan kehidupan emosionalnya.
Model ini memusatkan perhatian pada pandangan perseorangan dan berusaha menggalakkan kemandirian yang produktif, sehingga anak makin sadar diri dan bertanggung jawab atas tujuannya
c. Model sosial (Social Family) yang menekankan pada usaha mengembangkan kemampuan siswa agar meiliki kecakapan untuk berhubungan dengan orang lain sebagai usaha membangun sikap siswa yang demokratis dengan menghargai setiap perbedaan dalam realitas sosial.
Model sosial ini diarahkan pada upaya melibatkan siswa dalam menghayati, mengkaji, menerapkan, dan menerima fungsi dan peran sosial. Sehinga guru dituntut untuk mengorganisasikan belajar melalui kerja kelompok dan mengarahkannya.
d. Model sistem perilaku dalam pembelajaran (Behavioral Model of Teaching) yang dibangun atas kerangka teori perubahan perilaku siswa. Melalui teori ini siswa dibimbing untuk dapat memecahkan masalah belajar melalui penguraian perilaku ke dalam jumlah yang kecil dan berurutan.
Dengan demikian maka pemilihan model pembelajaran yang tepat dapat membantu guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran siswa di kelas. Model-model pembelajaran dibawah ini dapat dipilih oleh guru sesuai kondisi lingkungan belajar anak/siswa, sebagaimana di kutip dari Sagala (2009) diantaranya:
1. Model interaksi sosial
Metode-metode belajar yang paling diutamakan dalam pendekatan ini antara lain, diskusi, problem solving, metode simulasi, bekerja kelompok, dan metode lain yang menunjang berkembangnya hubungan sosial siswa.
Langkah yang ditempuh guru dalam pendekatan ini adalah:
• Guru melemparkan masalah dalam bentuk situasi sosial kepada siswa
• Siswa dengan bimbingan guru menelusuri berbagai macam masalah yang terdapat dalam situasi tersebut
• Siswa diberi tugas atau permasalahan untuk dipecahkan, dianalisis, dikerjakan yang berkenaan dengan situasi tersebut
• Dalam memecahkan masalah belajar tersebut, siswa diminta untuk mendiskusikannya
• Siswa membuat kesimpulan dari hasil diskusinya
• Pembahasan kembali hasil-hasil kegiatan
2. Model pembelajaran alam sekitar
Alam sekitar sebagai fundamen pendidikan dan pengajaran memberikan dasar emosional, sehingga anak menaruh perhatian yang spontan terhadap segala sesuatu yang diberikan kepadanya asal itu didasarkan dan diambil dari alam sekitar. J. Ligthart, sebagaimana dikutip dalam Sagala (2009) menyatakan bahwa belajar dengan menggunakan alam sekitar sebagai model kehidupan nyata, guru harus berpegang pada:
 Anak harus mengetahui barangnya terlebih dahulu sebelum mendengar namanya
 Pengajaran sesungguhnya harus mendasarkan pada pengajaran selanjutnya atau mata pengajaran yang lain harus dipusatkan pada pengajaran itu
 Haruslah diadakan perjalanan memasuki hidup senyatanya ke semua jurusan, agar siswa paham akan hubungan antara bermacam-macam lapangan dalam hidupnya.
 Dengan pengajaran alam sekitar itu, guru dapat memperagakan secara langsung sesuai dengan sifat-sifat atau dasar-dasar pengajaran
 Pengajaran alam sekitar memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya agar anak aktif atau giat dan tidak hanya duduk , dengar, dan catat saja
 Pengajaran alam sekitar memungkinkan untuk memberikan pengajaran totalitas
 Pengajaran alam sekitar memberi kepada anak bahan apersepsi intelektual yanh kukuh dan tidak verbalitas, dan
 Pengajaran alam sekitar memberikan apersepsi emosional karena alam sekitar mempunyai ikatan emosional dengan anak.

3. Model pembelajaran pusat perhatian
Model pembelajaran pusat perhatian lebih diarahkan pada kesesuaian minat-minat spontan anak, sebab apabila tidak maka pengajaran itu tidak akan banyak hasilnya.
Gerakan pengajaran pusat perhatian ini telah mendorong berbagai upaya agar dalam kegiatan pembelajaran, diadakan berbagai variasi cara mengajar agar perhatian siswa tetap terpusat pada bahan ajar. Peluang untuk memvariasikan pengajaran terbuka luas dengan kemajuan teknologi, hal ini menyebabkan upaya menarik minat belajar siswa/anak lebih besar. Pemusatan perhatian dalam pembelajaran dilakukan bukan hanya pada pembukaan pelajaran, tetapi dalam setiap pembahasan bahan ajar sehingga tidak ada waktu yang disia-siakan dan pembelajaran berlangsung penuh arti.

4. Model pembelajaran sekolah kerja
Model pembelajaran sekolah kerja ini memandang pendidikan tidak hanya demi kepentingan individu, tetapi juga demi kepentingan masyarakat. Dengan demikian, sekolah kerja ini menurut G. Kerschensteiner (dalam Sagala:2009) bertujuan untuk:
• Menambah pengetahuan anak, yaitu pengetahuan yang didapat dari buku atau orang lain, dan yang didapat dari pengalaman sendiri
• Agar anak dapat memiliki kemampuan dan kemahiran tertentu
• Agar anak dapat memiliki pekerjaan untuk menghidupi dirinya dan orang lain
5. Model pembelajaran individual
Model pembelajaran individual tampak pada perilaku atau kegiatan guru dalam pembelajaran yang menitik beratkan pada pemberian bantuan dan bimbingan belajar kepada para siswa secara individual. Susunan suatu tujuan belajar yang didesain untuk belajar mandiri harus disesuaikan dengan karakteristik individual dan kebutuhan tiap siswa. Bentuk-bentuk belajar model ini sebagaimana dikemukakan oleh Sagala (2009:184) antara lain:
• Self instruction, semacam model
• Independent study
• Individualized prescribed instruction, dan
• Self pacet learning.
Dimana pada kegiatan belajar dengan model ini hendaklah:
 Guru memberikan bantuan belajar kepada masing-masing pribadi siswa sesuai mata pelajaran yang diajarkan oleh guru yang bersangkutan
 Guru memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada masing-masing siswa untuk dapat belajar sesuai dengan kemampuan yang dimiliki siswanya, kemudian ada kesempatan bagi masing-masing siswa untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki siswa
 Guru memberikan keleluasaan kepada siswa menyusun program belajarnya sendiri, belajar berdasarkan kemampuannya, memiliki kedudukan yang sentral dan pusat pelayanan dalam proses belajarnya
 Posisi guru sebagai model adalah membantu membelajarkan siswa, membantu merencanakan kegiatan belajar siswa sesuai kemampuannya
 Guru membicarakan kepada siswa mengenai pelaksanaan belajarnya, mengemukakan kriteria keberhasilan belajar, dan menentukan alokasi waktu maupun kondisi belajar yang tepat bagi siswa secara individual
 Guru sebagai penasehat, pembimbing belajar, membantu siswa untuk mengadakan penilaian belajar dan kemajuan yang telah dicapainya
 Guru mengorganisasikan kegiatan belajar dengan mengatur dan memonitor kegiatan belajar siswa sejak awal sampai akhir sesuai skedul yang telah ditetapkan.

6. Model pembelajaran klasikal
Model pembelajaran klasikal/group presentation adalah kegiatan penyampaian pelajaran kepada sejumlah siswa, yang biasanya dilakukan oleh pengajar dengan berceramah di kelas (Sagala:2009)
Dalam hal ini guru dituntut kemampuannya menggunakan berbagai teknik penguatan dalam pembelajaran agar ketertibat belajar dapat diwujudkan. Karena pembelajaran klasikal pada umumnya menempatkan siswa pada posisi pasif sebagai penerima bahan ajar, sehingga agar terciptanya suasana kelas yang aktif guru dapat menggunakan metode-metode mengajar seperti; metode tanya jawab, diskusi, cooperative learning, bermain peran, dan sebagainya.

7. Model pembelajaran kontruktivis
Model pembelajaran ini lebih menekankan pada aspek psikomotorik anak, disebabkan karena terkadang anak/siswa memperoleh banyak pengetahuan di luar sekolah sehingga pemahaman anak tentang dunia real sudah terbentuk. Agar kondisi ini bisa terbawa ke dalam proses pembelajaran di sekolah, maka model pembelajaran kontruktivis ini perlu dilaksanakan di kelas.
Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model ini, Piaget (dalam Sagala:2009) memberi arahan kepada guru untuk membangkitkan kemampuan berpikir anak dalam belajar dengan prinsip-prinsip seperti:
• Menyiapkan benda-benda nyata untuk digunakan oleh siswa.
Dalam prinsip ini, ada dua alasan yang mendasarinya yakni; pengetahuan fisik diperoleh dengan berbuat pada benda-benda, dan melihat langsung bagaimana benda-benda itu bereaksi.
• Memperhatikan empat cara berbuat terhadap benda-benda tersebut
Ada empat cara berbuat terhadap benda-benda antara lain:
 Berbuat terhadap benda-benda dan melihat bagaimana benda-benda itu bereaksi
 Berbuat terhadap benda-benda untuk menghasilkan suatu efek yang diinginkan
 Menjadi sadar bagaimana seorang menghasilkan efek yang diinginkan
 Menjelaskan
• Memperkenalkan kegiatan
• Menciptakan pertanyaan, masalah-masalah, dan pemecahannya
• Siswa saling berinteraksi
• Hindari istilah teknis, dan tekankan berpikir
• Memperkenalkan kembali (reintroduce) materi kegiatan

B. Pendekatan Pembelajaran

Sedangkan pendekatan-pendekatan yang digunakan dalam proses pembelajaran sebagaimana di kutip dalam Sagala (2009), diantaranya:
1. Pendekatan inquiry/discovery atau model personal
Pendekatan inquiry merupakan pendekatan mengajar yang berusaha meletakkan dasar pada mengembangkan cara berpikir ilmiah. Pendekatan ini lebih menempatkan siswa lebih banyak belajar sendiri, mengembangkan kekreatifan dalam memecahkan masalah dalam bentuk kelompok belajar, peranan guru lebih banyak sebagai pembimbing, penyedia sumber belajar, dan fasilitator belajar. Sehingga pendekatan ini dapat dilaksanakan apabila terpenuhi sayarat-syarat sebagai berikut:
a) Guru harus terampil memilih persoalan yang relevan untuk diajukan kepada kelas (persoalan bersumber dari bahan pelajaran yang menantang siswa/problematik) dan sesuai dengan daya nalar siswa
b) Guru harus terampil menumbuhkan motivasi belajar siswa dan menciptakan situasi belajar yang menyenangkan
c) Adanya fasilitas dan sumber belajar yang cukup
d) Adanya kebebasan siswa untuk berpendapat, berkarya, berdiskusi
e) Partisipasi setiap siswa dalam setiap kegiatan belajar
f) Guru tidak banyak campur tangan dan intervensi terhadap kegiatan siswa
Ada 5 (lima) tahapan yang ditempuh dalam melaksanakan pendekatan ini, yakni:
 Perumusan masalah untuk dipecahkan siswa
 Menetapkan jawaban sementara atau hipotesis
 Siswa mencari informasi, data, dan fakta yang diperlukan untuk menjawab hipotesis
 Menarik kesimpulan jawaban atau generalisasi, dan
 Mengaplikasikan kesimpulan dalam situasi baru

2. Pendekatan tingkah laku (Behavioral models)
Dalam pendekatan ini, langkah guru mengajar adalah sebagai berikut:
• Guru menyajikan stimulus belajar kepada siswa
• Mengamati tingkah laku siswa dalam menanggapi stimulus yang diberikan oleh guru (respons siswa)
• Memberikan latihan kepada siswa untuk memberikan respons terhadap stimulus
• Memperkuat respons siswa yang dipandang paling tepat terhadap jawaban dari stimulus yang diberikan

C. Metode Pembelajaran

Hal yang paling penting dalam metode mengajara ialah langkah-langkah pelaksanaan metode mengajar. Oleh karena itu untuk mendorong keberhasilan guru dalam proses pembelajaran di kelasnya, guru harus memahami fungsi dan langkah-langkah dari setiap metode yang akan digunakan, begitu pula kelemahan dan kelebihan dari setiap metode tersebut.
a. Metode Ceramah
Ceramah adalah metode pengajaran yang menggunakan penjelasan secara verbal. Komunikasi biasanya bersifat satu arah namun bisa dilengkapi dengan audio visual, tanya jawab, diskusi singkat, dan sebagainya. Metode ini ada kelebihan, juga ada kelemahannya. Agar metode ini menjadi baik, menurut Sagala (2009), perlu diperhatikan hala-hal berikut:
 Metode ini digunakan jika jumlah siswa cukup banyak
 Metode ini sebaiknya digunakan pada saat guru akan memperkenalkan bahan ajar baru
 Metode ini akan efektif bila siswa telah mampu menerima informasi melalui kata-kata/verbal
 Sebaiknya diselingi penjelasan melalui gambar, carta, dan alat-alat visual lainnya
 Agar lebih efisien, maka langkah-langkah penggunaan metode ini dapat dilakukan antara lain;
 Pertama, melakukan pendahuluan sebelum bahan ajar diberikan, dengan cara: (1) menjelaskan tujuan pembelajaran lebih dahulu, (2) kemukakan pokok-pokok materi pelajaran, (3) membuat pertanyaan-pertanyaan menarik sebagai apersepsi
 Kedua, menyajikan bahan dengan memperhatikan: (1) perhatian peserta terhadap proses pembelajaran, (2) menyajikan bahan ajar secara sistematis, (3) ciptakan variasi mengajar dengan latihan-latihan, (4) melaksanakan ulangan-ulangan, (5) memberikan motivasi selama proses pembelajaran, (6) menggunakan berbagai media
 Ketiga, menutup pelajaran dengan teknik: (1) mengambil kesimpulan dari proses pembelajaran, (2) memberi kesempatan siswa menanggapi apa yang telah disampaikan guru, (3) melaksanakan penilaian secara komprehensif
b. Metode Diskusi
Biasanya metode ini dapat dipandang sebagai salah satu metode pengajaran yang paling efektif untuk kelompok kecil. Metode ini sangat efektif untuk anak berpikir kritis, memecahkan masalah, dan komunikasi antar pribadi siswa terbangun. Menurut Sagala (2009), diskusi adalah percakapan ilmiah yang responsif berisikan pertukaran pendapat yang dijalin dengan pertanyaan-pertanyaan problematis pemunculan ide-ide dan pengujian ide-ide ataupun pendapat dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam kelompok itu yang diarahkan untuk memperoleh pemecahan masalahnya dan untuk mencari kebenaran.
Agar metode ini efektif, maka guru perlu memperhatikan: (1) masalah yang akan didiskusikan harulah kontroversial, (2) guru menempatkan diri sebagai pemimpin diskusi, (3) guru memperhatikan pembicaraan agar fungsi guru sebagai pemimpin diskusi bisa efektif.
c. Metode Simulasi/Sosio Drama
Biasanya metode ini digabungkan dengan bermain peran, karena dengan memainkan peranan tersebut anak/siswa memperoleh suatu pengertian yang lebih baik tentang diri objek yang diperankan, motif yang mempengaruhi tingkah lakunya. Metode ini lebih baik kalau diarahkan guna pengembangan ranah afektif siswa.
Agar metode ini efektif, maka guru perlu memperhatikan: (1) guru menerangkan kepada siswa, bahwa dengan sosiodrama diharapkan siswa dapat memecahkan masalah, (2) guru harus memilih masalah yang urgen sehingga menarik minat siswa, (3) agar siswa lebih mendalami permasalahan, guru harus bisa menceritakan sambil mengatur adegan, (4) bobot dan permasalahan yang diaktualisasikan disesuaikan dengan waktu yang tersedia.
d. Metode Demonstrasi
Metode Demonstrasi menurut Sagala (2009), adalah pertunjukan tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh peserta didik secara nyata atau tiruannya.
Agar metode ini efektif, maka guru memperhatikan: (1) tentukan terlebih dahulu hasil yang ingin dicapai dalam jam pertemuan tersebut, (2) guru mengarahkan demonstrasi itu sedemikian rupa sehingga siswa memperoleh pengertian dan gambaran yang benar, pembentukan sikap, dan kecakapan praktis, (3) pilih dan kumpulkan alat-alat demonstrasi yang akan dilaksanakan, (4) usahakan agar seluruh siswa mengikuti kegiatan pembelajaran, (5) berikan pengertian yang sejelas-jelasnya tentang landasan teori dari apa yang akan didemonstrasikan, (6) hal-hal yang didemonstrasikan bersifat praktis dan berguna dalam kehidupan sehari-hari, (7) menetapkan garis-garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilaksanakan.

e. Metode Karyawisata
Karyawisata (field trip) ialah pesiar (ekskursi) yang dilakukan oleh para peserta didik untuk melengkapi pengalaman belajar tertentu dan merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah (Sagala:2009).
Hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam metode ini adalah: (1) merumuskan tujuan yang jelas dan tegas, (2) menentukan tugas sebelum dan sesudah kegiatan, (3) buat rencana penilaian, (4) aplikasikan pengalaman siswa dalam bentuk laporan
f. Metode Kerja Kelompok
Metode ini dipakai untuk merangkum pengertian dimana siswa dalam satu kelompok dipandang sebagai satu kesatuan tersendiri, untuk mencari satu tujuan pelajaran tertentu dengan bergotong royong.
Hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam menggunakan metode ini menurut Mansur (1996) dalam Sagala (2009) antara lain: (1) guru haruslah berusaha memperoleh pengetahuan yang luas dalam hal cara menyusun kelompok, baik melalui buku maupun bertanya kepada siswa yang telah berpengalaman, (2) kumpulan data tentang siswa untuk menunjang tugas-tugas guru, (3) adakan tes sosiometri dan buatlah sosiogram dari kelas bersangkutan untuk mengetahui ada siswa yang terisolasi, (4) bimbingan terhadap kelompok dilakukan oleh guru terus menerus, (5) usahakan agar jumlah kelompok tidak terlalu besar dan anggotanya dalam waktu tertentu berganti-ganti, dan (6) dalam memberi motivasi haruslah menuju kepada kompetisi yang sehat.
g. Metode Latihan (Training Methods)
Metode latihan (drill) merupakan suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu (Sagala:2009)
Hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam metode ini adalah: (1) latihan hanya untuk bahan atau tindakan yang bersifat otomatis, (2) latihan harus memiliki arti yang luas, (3) masa latihan relatif harus singkat, (4) latihan harus menarik, gembira dan tidak membosankan, (5) proses latihan dan kebutuhan-kebutuhan harus disesuaikan dengan perbedaan indicidual.
h. Metode Tanya Jawab
Hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam menerapkan metode ini antara lain: (1) adanya respon dari siswa untuk menjawabnya, (2) ciptakan rasa tidak puas atas pertanyaan yang diberikan kepada siswa, (3) adanya pertanyaan yang tidak terlampau menghendaki jawaban “ ya “ atau “ tidak” atau “bukan”, (4) pertanyaan jelas dan mudah dipahami.
i. Metode Pemberian Tugas
Hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam menerapkan metode ini antara lain: (1) tugas yang diberikan kepada siswa hendaknya jelas, sehingga mereka mengerti apa yang harus dikerjakan, (2) tugas yang diberikan dipertimbangkan perbedaan individu, (3) waktu penyelesaian tugas harus cukup, (4) bahan pelajaran yang ditugaskan kepada siswa diusahakan dari hal-hal yang dikenal siswa.
j. Metode Eksperimen
Hal-hal yang perlu diperhatikan guru antara lain: (1) guru menerangkan sejelas-jelasnya hasil yang ingin dicapai sehingga siswa mengetahui persyaratan-persyaratannya dan pertanyaan yang perlu dijawabnya, (2) hendaknya guru membicarakan bersama-sama siswa tentang langkah yang dianggap baik untuk memecahkan masalah dalam eksperimen, bahan-bahan yang diperlukan, variabel yang perlu dikontrol, dan hal-hal yang perlu dicatat, (3) guru juga bisa menolong siswa memperoleh bahan-bahan yang diperlukan, (4) guru merangsang siswa agar setelah eksperimen berakhir, siswa mampu membandingkan hasilnya dengan hasil orang lain dan mencari pemecahan masalah atau membuat kesimpulan.

4. Hubungan Guru-Siswa
Hubungan guru-siswa dalam proses belajar mengajar yang diharapkan adalah hubungan manusiawi. Menurut aliran Humanistik, aspek-aspek yang perlu mendapatkan perhatian guru dalam belajar adalah:
• Memperoleh informasi baru
• Personalisasi individual terhadap informasi yang diterimanya
Maka yang penting bagi guru adalah bagaimana membawa siswa memperoleh pengertian yang sesuai dengan pribadinya.
Atas dasar itu, maka guru tidak lagi sebagai pusat kegiatan/perhatian melainkan sebagai fasilitator, yang membantu siswa mengembangkan kemampuannya.
Untuk itu guru perlu mengusahakan iklim yang menunjang efektivitas belajar seperti:
 Memberi kebebasan siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas, memberikan kesempatan dan membantu setiap siswa untuk merealisasikan maksud dan tujuan yang ingin dicapai oleh siswa
 Mengusahakan suasana belajar yang hangat, bergairah, dan iklim yang memungkinkan siswa untuk berinisiatif dan segera mulai bekerja
 Menghargai dan mampu memahami ungkapan perasaan siswanya, serta segera bertindak menetralisasi suasana menuju saling pengertian yang konstruktif
 Memberikan tugas-tugas yang menantang kepada siswa dan menjadi sumber belajar yang sewaktu-waktu dapat dimanfaatkan oleh siswa
 Mengontrol kedisiplinan siswa
 Menilai keberhasilan siswa
 Memberikan reward kepada siswa atas keberhasilannya
 Memberikan punishment yang mengarah pada paedagogie dan pembentukan karakter siswa
 Mengusahakan dan mengorganisasi sebaik-baiknya sumber-sumber belajar agar sesuai dan bermanfaat bagi siswa dan kelas
 Sebagai fasilitator, maka guru hendaknya berusaha mengenal dirinya lebih banyak lagi dan berusaha mengetahui kelemahan-kelemahan dirinya, sifat-sifatnya, serta tingkah lakunya.
Hasil riset di bidang pendidikan kebanyakan membuktikan bahwa ada beberapa sifat guru yang sangat disukai/disenangi anak/siswanya antara lain:
• Memiliki rasa gembira dan selera humor yang tinggi
• Menganggap dirinya sebagai manusia biasa, sebagai salah satu anggota kelas khususnya, dan anggota sekolah secara keseluruhan
• Memiliki rasa kasih sayang, welas asih, memperhatikan, memahami, dan mearuh perhatian besar terhadap sifat dan permasalahan siswanya
• Berusaha selalu membangkitkan minat siswanya untuk belajar dan berusaha agar pelajaran merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan bagi siswanya
• Memiliki sikap tegas, tidak pilih kasih, dapat memimpin kelas dan menimbulkan rasa hormat
• Adil dalam bertindak
• Tidak suka marah, memiliki pribadi yang menyenangkan, sehingga merupakan salah satu daya penarik siswanya.

5. Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas menunjukkan kepada berbagai jenis kegiatan yang sengaja dilakukan oleh guru dengan tujuan untuk mempertahankan/menciptakan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar.
Pengelolaan kelas meliputi pengaturan tingkah laku antara ruang sehingga tercipta kemudahan-kemudahan dalam proses pembelajaran.
Hal-hal yang bersangkut paut dengan pengelolaan kelas meliputi:
a) Kondisi dan Situasi Belajar Mengajar
1. Kondisi fisik, yang meliputi tempat belajar yang kondusif yang mendukung meningkatnya intensitas proses pembelajaran dan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan
2. Kondisi emosional dalam kelas, yang meliputi kepemimpinan guru, sikap dan tingkah laku guru, suara guru, dan pembinaan raport siswa.
b) Administrasi teknik
Yang termasuk administrasi teknik antara lain; absensi, tempat bimbingan, ruang baca, catatan pribadi, tempat sampah, dan lain-lain
c) Dimensi pengelolaan kelas
1. Dimensi pencegahan, yakni berupa tindakan guru dalam mengatur siswa dan peralatan (format pembelajaran) yang tepat agar menmb uhkan kondisi yang menguntungkan bagi berlangsungnya proses pembelajaran.
Usaha-usaha yang dapat dilakukan antara lain:
 Meningkatkan kesadaran diri, baik guru maupun siswa, karena masalah yang terkadang timbul yaitu adanya jurang pemisah terhadap apa yang harus dilakukan menurut guru dan apa yang sebenarnya terjadi dan yang diinginkan oleh siswa
 Sikap yang tulus dari guru dalam membimbing proses belajar siswanya
 Membuat kontrak-kontrak sosial, seperti tata tertib dan segala sangsi yang dibicarakan dan disetujui secara bersama-sama.
2. Dimensi korektif
• Tindakan yang segera diambil pada saat terjadi gangguan
• Tindakan terhadap tingkah laku yang menyimpang agar tidak berlarut-larut (tindakan kuratif)
Upaya-upaya yang dapat dilakukan pada dimensi ini antara lain:
 Berikan pesan-pesan non-verbal kepada anak
 Melakukan kontrol sosial
 Hindarkan siswa mendapat malu dihadapan teman-temannya
 Hindarkan konsekwensi yang paling berat berupa hukuman
 Bila alternatif yang dipilih tidak efektif, pindah ke alternatif lain yang diperkirakan memberikan hasil lebih baik
 Tidak menutup kemungkinan siswa memilih alternatif konsekwensi pelanggaran pada kontrak sosial
 Suatu konsekwensi diupayakan hanya berlaku pada hari ini dan saat ini
 Menetapkan waktu pertemuan dengan siswa yang disetujui bersama
 Menjelaskan manfaat yang mungkin diperoleh bagi siswa dan sekolah
 Tunjukkan kepada siswa bahwa guru bukanlah manusia yang sempurna
 Bila dalam pertemuan penyelesaian permasalahan siswa tidak responsif, gru dapat mengajak diskusi pada saat lain
 Pertemuan guru-siswa harus sampai pada pemecahan masalah yang diterima siswa dalam rangka memperbaiki tingkah lakunya (kontrak individual), dan
 Setiap tindakan yang diambil guru harus dipertimbangkan sampai pada pilihan yang terbaik dan yang paling bijaksana.
d) Disiplin
Disiplin di sekolah digunakan untuk mengontrol tugas-tugas agar berjalan optimal. Sikap guru yang demokratis merupakan kondisi bagi terbinanya ketertiban ke arah siasat. Masalah pelanggaran disiplin itu sangat unik, bersifat pribadi, kompleks, dan kadang-kadang mempunyai latar belakang yang mendalam. Meskipun demikian ada juga sebab-sebab yang bersifat umum, yaitu:
• Kebosanan di kelas.
• Perasaan kecewa dan tertekan karena tuntutan yang tidak sesuai
• Tidak terpenuhinya kebutuhan akan perhatian, pengenalan, dan status
Sehingga usaha yang dapat ditempuh dalam menanggulangi pelanggaran disiplin antara lain:
• Pengenalan siswa, karena pada dasarnya siswa mempunyai daya atau tenaga untuk mengontrol dirinya
• Memberikan penyaluran yang efektif terhadap berbagai perasaan tertekan, misalnya:
 Menguji pikiran anak yang mendasari suatu perasaannya
 Menyediakan kotak masalah bagi siswa
 Penurunan suasana emosional dengan cara memejamkan mata
 Role playing

6. Bidang Studi/Bahan Ajar
Pengetahuan tentang psikologi bidang studi/bahan ajar perlu diketahui oleh guru, karena beberapa penelitian menyatakan bahwa pengalaman praktis para guru selama beberapa generasi membuktikan bahwa prosedur pemanfaatn alat dan bahan pengajaran haruslah:
• Pemeriksaan awal; dimana bahan pengajaran yang akan digunakan harus diperiksa lebih dulu, supaya guru dapat menentukan apakah bahan tersebut dapat berguna bagi siswa dalam mencapai tjuan pembelajaran
• Persiapan lingkungan; dimanapun penyajian bahan ajar akan berlangsung, semua perlengkapan harus ditempatkan pada tempat yang baik dan benar.
• Penyajian bahan ajar; penguasaan bahan ajar merupakan syarat mutlak guru selain dari metode pengajaran dan strategi penyajian. Sehingga hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam menetapkan bahan ajar adalah:
 Bahan ajar hendaknya dapat menunjang tercapainya tujuan instruksional
 Bahan ajar hendaknya sesuai dengan tingkat pendidikan dan perkemba ngan siswa
 Bahan ajar hendaknya terorganisir secara sistematik dan berkesinam bungan
 Bahan ajar hendaklah mencakup hal-hal yang bersifat faktual maupun konseptual
Jerome Bruner (1960) dalam Syaiful Sagala (2009) membagi alat instruksional dalam 4 (empat) macam menurut fungsinya:
1. Alat untuk menyampaikan pengalaman “vicarious”, yaitu menyajikan bahan kepada siswa yang sedianya tidak dapat mereka peroleh dengan pengalaman langsung yang lazim di sekolah, dapat dilakukan melalui film, televisi, rekaman suara, dan sebagainya.
2. Alat model yang dapat memberikan pengertian tentang struktur atau prinsip suatu gejala, misalnya model molekul, alat pernapasan elektrik, atau eksperimen dan demonstrasi untuk memberikan pemahaman tentang prinsip-prinsip.
3. Alat dramatisasi, yakni yang mendramatisasikan sejarah suatu peristiwa atau tokoh, film tentang alam yang memperlihatkan perjuangan untuk hidup, untuk memberi perhatian tentang sesuatu ide atau gejala dan sebagainya
4. Alat automatisasi seperti “teaching machine” atau pelajaran berprograma, menyajikan suatu masalah dalam urutan yang teratur dan memberi balikan atau feed back tentang respons siswa.

Dengan demikian, untuk tercipta kondisi belajar yang menyenangkan bagi anak/siswa, maka guru bisa mengkondisikan belajar, terutama yang berhubungan dengan motivasi anak berupa motivasi instrinsik dan ekstrinsik, agar setiap proses pembelajaran bisa berarti bagi anak/siswa.

III.KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN
A. Kesimpulan
Aktifitas belajar setiap anak tidaklah sama. Hal ini disebabkan karena banyak faktor yang turut berpengaruh, yang pada intinya faktor-faktor tersebut pada garis besarnya dibagi atas dua bagian yakni; faktor fisiologis dan faktor psikologis atau disebut juga faktor eksternal dan faktor internal. Kedua faktor ini sangat berperan penting dalam pembentukan karakter anak sebagi hasil dari belajar.
Belajar adalah proses atau kegiatan yang dilakukan anak dengan mengamati, meniru, mencoba, mendengarkan, mengikuti, dan mengalami sesuatu pengetahuan lalu mempraktekannya guna merubah tingkah laku ke arah yang diinginkannya. Dengan demikian maka, belajar itu membutuhkan dorongan/motivasi dari diri anak maupun lingkungannya, belajar juga merupakan proses dimana dalam kegiatan tersebut anak akan mendapatkan pemahaman atau pengetahuan yang kemudian dipraktekkan atau diaplikasikan sebagai manifestasi dari berubahnya tingkah laku yang diinginkannya.
Maka agar tercapai proses belajar yang diinginkan anak maupun guru yang mengajarinya, dibutuhkan pemahaman psikologi belajar sehingga guru dapat memahami hal-hal yang dapat mempengaruhi anak untuk dapat belajar secara sempurna.
Hal-hal yang perlu diperhatikan guru dalam psikologi belajar anak adalah bagaimana mengkondisikan anak dan proses kegiatan belajarnya secara tepat sehingga proses pembelajaran akan berjalan lancar dan menyenangkan anak.
Pengkondisian belajar merupakan salah satu usaha guru yang dapat mendukung tercapainya kegiatan pembelajaran anak. Pengkondisian ini dibagi atas dua bagian yakni; (a) pengkondisian psikologis/fisiologis dan (b) pengkondisian sosial budaya.
Pengkondisian psikologis adalah pengkondisian yang dilakukan guru untuk merangsang kondisi psikologis anak agar terdorong untuk belajar, diantaranya merangsang minat anak atau motivasi anak dengan upaya-upaya antara lain:
- Mendorong anak tentang manfaat belajar bagi dirinya
- Mengungkapkan tujuan dari proses pembelajaran bagi anak
- Merangsang anak untuk mau belajar dengan menciptakan kondisi-kondisi menyenangkan dengan berbagai program
- Menciptakan kondisi dimana anak merasa bahwa belajar adalah kebutuhannya karena ingin mengetahui sesuatu
Pengkondisian sosial budaya adalah pengkondisian yang dilakukan guru untuk terciptanya kegiatan belajar yang menyenangkan dan menggairahkan selama proses pembelajaran berlangsung, diantaranya:
- Mengkondisikan pembelajaran dikelas dengan berbagai strategi yang merangsang anak untuk tetap betah dalam proses pembelajaran
- Menciptakan dan menyediakan alat-alat pembelajaran sebagai stimuli yang menyenangkan bagi anak selama proses pembelajaran berlangsung
- Menggunakan berbagai model pembelajaran yang lebih mengarahkan anak untuk pro aktif dalam proses pembelajarannya
- Menggunakan berbagai metode pembelajaran secara variatif sehingga tidak menimbulkan kebosanan atau rasa jemu anak selama proses pembelajarannya

B. Saran-Saran
1. Sekolah
Kondisi belajar anak bisa menyenangkan bila kondisi lingkungan belajarnya kondusif, jauh dari tekanan-tekanan psikologis, ketersediaan sarana pendukung yang walaupun sederhana tetapi memiliki stimuli yang kuat sebagai media/bahan pembelajaran yang menyenangkan
2. Kepala Sekolah
Memberikan keleluasaan kepada guru untuk berimprovisasi dan tidak terlalu mendikte guru merupakan langkah yang cukup bijaksana dalam menciptakan suasana pembelajaran menyenangkan yang dirancang oleh setiap guru dalam setiap kegiatan pembelajarannya di kelas.
3. Guru
-Belajar bukan hanya sekedar anak diberi bahan ajar lalu guru mengharapkan bahan ajar itu dipelajari anak tanpa adanya stimuli yang tepat dalam memberikan daya bagi anak untuk mengalami proses pembelajarannya secara tepat.
-Untuk itu pemahaman terhadap psikologi belajar, merupakan langkah yang tepat dan sangat dibutuhkan guru dalam kegiatan pembelajarannya.
-Penggunaan berbagai macam strategi, model, dan metode dalam mengajar harus selalu dilakukan oleh guru dalam mengkondisikan kegiatan pembelajarannya agar anak merasa selalu menemukan pengalaman baru dalam kegiatan pembelajarannya.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ahmadi,Abu: Ilmu Pendidikan.
Jakarta:Rineka Cipta,2003.
2. ---------------- :Psikologi Belajar
Jakarta:Rineka Cipta,2004.
3. Hill,Winfred F:Theories of Learning;Teori-teori Pembelajaran (Konsepsi,Komparasi,dan Signifikansi.
Bandung:Nusa Media,2009
4. Sagala,Syaiful:Konsep dan Makna Pembelajaran
Bandung:Alfabeta,2009
5. Soeryabrata,Soemadi: Psikologi Pendidikan;Suatu Penyajian Secara Operasional,Jilid 2.
Yogyakarta:Rake Press,1981.
6. Soemanto,Wasty: Psikologi Pendidikan;Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan.
Jakarta:Rineka Cipta,2006.
7. Soetriono,dan Rita Hanafie:Filsafat Ilmu dan Metodologi Penelitian.
Yogyakarta:Andi 2007.
8. Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM:Filsafat Ilmu;Sebagai Dasar Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Yogyakarta:Liberty,2007.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar